Percaya Benteng Gaib Desa Bocor, Warga Meninggal Terus Bergantian

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Sabtu, 21 Agustus 2021 10:58 WIB

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A

Wa 'alaikumus salam wr. wb.

Kepercayaan mistis seperti itu memang fenomena global masyarakat tradisional yang biasanya penghidupan mereka tergantung pada "anugerah alam" seperti petani, peternak, nelayan, dan yang lain. Kadang masyarakat yang hidup dalam alam transisi antara tradisional ke modern, bahkan mereka yang hidup di era digital tidak bisa meninggalkan kepercayaan-kepercayaan yang bersifat mistik tersebut.

Bapak yang secara fungsional sebagai da'i harus bijak menghadapinya.

Percaya pada yang gaib (Allah, , dan yang lain) adalah ajaran dasar Islam. Allah berfirman: "Kitab (Alquran) itu, kontennya jelas, yang berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang percaya yang gaib..." (Qs al-Baqarah: 2 - 3). Jadi , syetan dan yang itu menurut Islam itu riil ada. Persoalannya, kita tidak bisa melihat keberadaan makhluk-makhluk ini.

Dalam konteks makhluk halus ini kita tidak boleh minta tolong kepada selain Allah. Ini sesuai dengan ikrar yang selalu kita nyatakan dalam salat. "Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami pertolongan" (Qs al-Fatihah:6).

Jadi, minta tolong pada makhluk halus, termasuk itu dilarang dalam Islam. Sebab minta tolong pada , terkait dengan yang misteri itu berarti memposisikan makhluk-makhluk halus ini "setara" dengan Allah. Percaya dan sikap demikian adalah syirik yang akan merusak iman kita.

Untuk itu dalam berdoa, kita hanya memanggil dan meminta tolong pada Allah atau 99 nama yang populer dengan "nama-nama yang baik" (al-asma' al-husna). Soal yang riil dan kasat mata yang menolong adalah sesama manusia atau makhluk lain, itu otoritas Allah, kita berserah diri pada-Nya.

Walaupun demikian, apa kita harus menentang dan tradisi masyarakat tersebut secara vulgar atau dengan cara kekerasan ? Ini.... tak menguntungkan bagi kelanjutan dakwah. Yang harus kita lakukan adalah mengubah orietntasi dan tujuan tradisi itu secara bertahap. Jika dalam tradisi itu ada makan-makan, maka ubah tujuan memberi makanan sebagai sebagai sedekah. Sesuai petunjuk Nabi: "bahwa sedekah itu berfungsi sebagai penolak balak" (Hr. Muslim).

Jika dalam tradisi itu ada acara dzikir atau istighatsah, harap di antara doa dan dzikir itu ada tahlil, baca surat al-Ikhlas 3×, al-Falaq 3× al-Nas 3× ayat kursi dan doa 2 ayat di akhir surat al-Baqarah. Sebab 3 surat dan beberapa ayat tersebut --sesuai arahan Nabi-- bisa berfungsi sebagai pengusir syetan, makhluk jahat dan terhindar dari balak. Demikian, wallahu a'lam.

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video