Hadiri Soft Launching Klinik NU Limpung Jateng, Kiai Asep Ungkap “Korek Api” Mbah Wahab

Editor: mma
Minggu, 29 Agustus 2021 22:03 WIB

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat menerima potongan tumpeng dari Rais Syuriah PCNU Batang KH Ahmad Manaf Syair di Klinik NU Limpung Batang Jawa Tengah, Sabtu (28/8/2021).Foto: mma/bangsaonline.com

BATANG, BANGSAONLINE.com - Meski hanya tingkat MWC (Majelis Wakil Cabang), tapi jika dikelola dengan benar, ternyata NU bisa menghasilkan kemasalahatan luar biasa bagi umat. Setidaknya inilah yang dibuktikan MWC NU Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Para pengurus NU tingkat kecamatan itu sukses membangun pelayanan kesehatan cukup representatif berupa klinik tiga lantai.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA yang diundang untuk memberikan taushiah dan memimpin istighatsah dan doa pada acara soft launching klinik tersebut mengapresiasi para pengurus MWC NU yang telah sukses membangun gedung klinik NU yang megah bercat hijau dan putih tersebut.

“Tolong ini diteruskan. Kalau perlu dikembangkan jadi rumah sakit,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim di depan para kiai yang terdiri dari para pengurus PCNU Batang lengkap dengan semua MWC dan Ranting NU serta para banom.

Mereka antara lain Rais Syuriah PCNU Batang KH Ahmad Manaf Syair, Ketua Tanfidziyah KH Ahmad Taufiq dan Ketua Yayasan yang membawahi klinik NU tersebut, H Sayono. Acara itu berlangsung di Klinik NU Limpung Batang Jawa Tengah, Sabtu (28/8/2021).

(Klinik NU Limpung Batang Jawa Tengah. foto: mma/bangsaonline.com)

Kiai Asep mengajak para kiai yang hadir untuk selalu optimistis dengan cita-cita besar. Ia mencontohkan dirinya saat membangun Pondok Pesantren . Menurut dia, pada tahun 2016 ia hanya punya tanah satu hektare di Pacet Mojokerto Jawa Timur.

“Jalannya sempit. Kalau ada mobil di depan kita harus sabar karena kita tak bisa menyalip karena jalannya kecil,” katannya. Tanah itu, tuturnya, dicicil sampai dua tahun baru lunas.

Bahkan, menurut Kiai Asep, banyak yang mencibir ketika dirinya menyampaikan cita-citanya. Di antaranya pengurus Petra, lembaga pendidika Kristen, di Surabaya. Mereka dengan sinis menilai obsesi Kiai Asep terlalu tinggi.

Bahkan seorang lurah, tutur Kiai Asep, menganggap cita-cita mendirikan lembaga pendidikan bertaraf internasional itu tak masuk akal.

Ojok kemelipen poo,” kata Kiai Asep menirukan pernyataan lurah tersebut. Artinya, punya cita-cita jangan terlalu tinggi.

“Saya sendiri sampai malu punya cita-cita,” tambahnya.

Namun Kiai Asep kemudian menemukan Hadits Innallaha ma’liyal umur wayakrahu safsafaha. “Bahwa Allah itu senang pada orang yang punya cita-cita tinggi dan tak suka pada orang yang cita-citanya rendah,” tegasnya.

Sejak menemukan Hadits itulah Kiai Asep penuh optimisme dan kukuh pendirian. Ternyata sukses. Ia bisa membangun pesantren besar. Yaitu Pondok Pesantren .

“Setelah 15 tahun berdiri sekarang santri saya 12 ribu,” tegas Kiai Asep yang membuat banyak kiai berdecak kagum.

Kini Kiai Asep sedang merintis pembangunan International University. Ini juga bagian dari cita-cita besar Kiai Asep untuk Indonesia. Ia mengaku terinspirasi negara-negara lain yang bisa dikenal dunia internasional berkat perguruan tingginya.

“Mesir itu negara miskin. Tapi punya Universitas Al-Azhar yang memberikan beasiswa ke seluruh negara Islam seluruh dunia. Yaman juga miskin tapi punya Al-Ahqaf dan Maroko punya Qorowin,” tegas Kiai Asep.

Kiai Asep juga memberi contoh upaya KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) dan KH Abdul Chalim saat mendirikan NU. Menurut Kiai Asep, NU didirikan dengan dua tujuan.

“Untuk membentengi paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan kemerdekaan Indonesia,” kata Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, NU berdiri diawali Nahdlatul Wathan yang anggotanya 60 orang. “Ketuanya Kiai Abdul Wahab Hasbullah, sekretarisnya abah saya, Kiai Abdul Chalim. Kemudian berdiri wathan-wathan yang lain,” kata Kiai Asep yang juga ketua umum Persatuan Guru Nadhlatul Ulama (Pergunu) itu.

Saat itu, tutur Kiai Asep, paham Aswaja dikuyo-kuyo. Bahkan Raja Saudi Arabia menghancurkan banyak situs-situs Islam, termasuk makam Rasulullah SAW. Maka para ulama pesantren melakukan konsolidasi untuk mencari cara menghentikan sepak terjang Raja Saudi Arabia yang semakin tak bersahabat dengan paham Aswaja.

Berkat pengaruh besar Hadaratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari berkumpullah para ulama se-Pulau Jawa dan Madura di Kertopaten Surabaya.

“Sebagian Kalimantan,” tutur Kiai Asep. Para ulama itu sepakat membentuk panitia kecil yaitu Komite Hijaz untuk mengirim delegasi kepada Raja Saudi Arabia.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video