Cegah Perundungan, 30 Siswa SMA Al Muslim Jadi Agen Perubahan di Program Roots Indonesia

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Mustain
Jumat, 10 September 2021 18:46 WIB

PAPARAN: Sosialisasi Program Roots Indonesia yang diikuti siswa SMA Al Muslim, Jumat (10/9/2021). (foto: ist)

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Sebanyak 30 siswa SMA Al Muslim Sidoarjo terpilih sebagai agen perubahan dalam Program Roots Indonesia. Program Roots Indonesia merupakan visi pendidikan mewujudkan Indonesia maju, berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

Yakni melalui terciptanya pelajar Pancasila bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bergotong royong, serta berkebinekaan global.

Guna mewujudkan visi itu, Kemdikbudristek bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Karakter (Puspeka) dan UNICEF melaksanakan Program Roots Indonesia Tahun 2021. Program ini bertujuan mencegah perundungan di sekolah. Program ini memfokuskan peran pelajar sebagai agen perubahan menyebar pesan dan perilaku baik di antara teman sebaya.

SMA Al Muslim sebagai sekolah penggerak angkatan pertama tahun 2021, mendapat amanah besar dari Puspeka untuk melaksanakan program antiperundungan di sekolah itu. Yakni dengan melibatkan 30 siswa yang menjadi agen perubahan.

Kegiatan diawali bimtek fasilitator sekolah. Kemudian dilanjutkan pemilihan 30 agen perubahan melalui U-Report dan sekolah berkoordinasi untuk persiapan sosialisasi Program Roots. Pemilihan 30 siswa dilakukan melalui sistem U-Report Indonesia. Yakni wadah komunikasi anak muda dari UNICEF untuk menyuarakan pendapat. Jadi 30 agen perubahan ini perwakilan sekolah untuk melaksanakan program antiperundungan sehingga ke depan tidak ada lagi perundungan di sekolah.

"Terpilihnya agen perubahan dari siswa ini, harapannya program mudah diterima siswa lain karena yang menyampaikan teman mereka sendiri," cetus Kepala SMA Al Muslim Jawa Timur Mahmudah, Jumat (10/9/2021).

Kata Mahmudah, sebelum melakukan aksinya, 30 siswa ini mendapat pembinaan dan pelatihan selama 10 kali yang dilaksanakan selama satu jam per minggu oleh dua fasilitator sekolah. Setelah selesai pembinaan, agen perubahan melakukan kegiatan Roots Day.

"Kegiatan agen perubahan melakukan aksi kampanye antiperundungan kepada semua warga sekolah melalui informasi dan kreasi," tambah Mahmudah.

Lebih jauh, Mahmudah menjelaskan bahwa program antiperundungan ini sangat tepat jika dimasukkan dalam program sekolah. Alasannya, merupakan tanggung jawab besar dari Kemendikbudristek untuk meminimalisir salah satu dari tiga dosa besar pendidikan. Yakni bullying (perundungan), kekerasan terhadap perempuan, dan intoleran. Apalagi, bullying tidak hanya terjadi di sekolah, akan tetapi terjadi di masyarakat secara umum.

"Perbuatan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seperti yang terjadi baru-baru ini kasus perundungan dan pelecehan yang terjadi pada pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kasus ini tidak terjadi pada anak-anak, akan tetapi terjadi pada seorang yang sudah berusia dewasa. Pendidikan memiliki peran sangat besar untuk menanamkan pendidikan karakter sejak dini," beber Mahmudah.

Ia pun berharap, agar semua pelajar memiliki karakter baik dan prinsip perundungan adalah perilaku tercela yang akan membawa dampak psikis seseorang yang tidak mudah dilupakan.

Sementara itu, Fasilitator Sosialisasi Program Roots Indonesia Misbakhus Surur menilai berperilaku positif merupakan salah satu cara untuk menghindari perundungan ataupun bullying. Selain itu, melatih mengendalikan emosi merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah terjadinya perundungan.

"Kunci poinnya ada di situ. Ini yang harus dipahami bersama," tegasnya.

Ibet, Agen Perubahan Antiperundungan SMA Al Muslim mengaku senang karena bisa terpilih menjadi salah satu agen perubahan antiperundungan di SMA Al Muslim. Harapannya, bisa mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman tentang perundungan serta memotivasi diri untuk berbagi pengetahuan tentang perundungan.

Selain itu, siswa yang duduk di kelas X-3 SMA Al Muslim ini berharap Program Roots Indonesia ini dapat diikuti semua sekolah. "Harapannya agar dapat meminimalisir terjadinya perundungan dan semakin banyak yang menjadi agen perubahan antiperundungan," tandas Ibet. (sta/zar)