Saat Kecil Saya Hina Allah dengan Kata Tak Pantas, Sekarang Saya Merasa Ketakutan

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Sabtu, 25 September 2021 10:46 WIB

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.

Jawaban:

Waalaikummussalam. Mbak Kiptya, kalau melihat usia, Anda tergolong masih sangat muda. Semoga jawaban saya yang singkat ini bisa menenangkan hati

Perasaan bersalah karena mengingat "pikiran atau lintasan prasangka buruk pada Allah" yang mbak alami ketika kecil atau remaja atau kapan pun itu pertanda baik. Sebab, itu adalah pertanda bahwa hati mbak nyambung dengan Allah. Ketersambungan itu harus dipelihara, dipertahankan bahkan --jika mungkin-- dikembangkan.

Hanya mbak harus menjaga gelombang kebiasaan manusia pada umumnya. Jika tidak, maka mbak dinilai sebagai "tidak waras" jiwanya. Hiduplah normal-normal saja, seperti mayoritas kaum Muslim di tempat mbak menjalani kehidupan.

Suara hati khawatir tobat tidak diterima oleh Allah, ini juga pertanda baik. Asal kekhawatiran itu mendorong mbak untuk memperbaiki kualitas atau kuantitas ibadah. Dalam waktu yang sama "perasaan" tersebut membuat mbak semakin jauh dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah.

Ini pun mbak harus menjaga sikap yang biasa dilakukan oleh mayoritas kaum Muslim ketika bertobat. Mbak tidak boleh "terlalu kentara" menunjukkan penyesalan yang berlebihan. Bersikaplah secara normal, seperti yang ditunjukkan oleh mayoritas kaum Muslim ketika mereka tobat dan menyesali dosa.

Sisi baik ini akan menjelek, jika di benak mbak muncul perasaan: ingin dipuji sebagai orang khusyuk dan taat beribadah. Perasaan seperti ini akan menghancurkan "indikasi baik" seperti yang saya jelaskan. Apapun perasaan yang muncul di hati dan pikiran, itu tidak boleh berlebihan. Perasaan "aku ini biasa-biasa saja", itulah yang punya nilai tinggi di sisi Allah.

Demikian, wallahu a'lam.

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video