Tiongkok Rebut Taiwan, Mao Zedong Tidak Pernah Sikat Gigi Seumur Hidup

Editor: mma
Senin, 11 Oktober 2021 10:23 WIB

Dahlan Iskan

Pertama di akhir era kekaisaran. Berubahnya lewat revolusi kemerdekaan.

Setelah merdeka, pemerintahan Tiongkok dipegang partai nasionalis: Kuomintang. Tujuan kemerdekaan tidak kunjung tercapai. Pun sampai 35 tahun kemudian, cita-cita kemerdekaan tidak terwujud. Tiongkok tetap saja miskin. Kaisar-kaisar kecil masih terus berkuasa: di banyak sektor dan di banyak daerah.

Sampai mencapai tipping point lagi.

Mao Zedong pun –yang seumur hidupnya tidak pernah melakukan sikat gigi– memimpin pemberontakan. Dengan bendera komunis. Berbulan-bulan. Berdarah-darah. Ayah Xi Jinping bergabung ke pemberontakan itu.

Pemerintahan Kuomintang lari dari Beijing. Ke Shanghai. Kalah di Shanghai. Lari ke Chongqing –di hulu sungai Chang Jiang. Kalah lagi. Lari ke lebih pedalaman lagi: Chengdu di Sichuan. Kalah lagi. Lari ke Taiwan: di situlah pemerintahan nasionalis diteruskan.

Mao tidak mampu lagi mengejarnya. Terpisah laut yang luas. Atau tidak mau mengejarnya –berdasar perhitungan untung rugi.

Tapi pengejaran pura-pura terus dilakukan. Setidaknya secara simbolis –kalau istilah sekarang: secara virtual.

Hampir tiap hari, Tiongkok-komunis terus saja menembakkan meriam ke Taiwan. Dari sebuah pulau kecil di dekat Xiamen, Fujian.

Mereka tahu pelurunya tidak akan sampai tapi arah penembakannya harus ke pulau Taiwan. Lucu sekali. Mereka tahu peluru itu selalu jatuh di laut –tidak jauh dari lokasi penembakan. Terlalu jauh dari sasaran. Tetap saja harus ditembakkan. Setiap hari.

Dengan begitu Tiongkok bisa klaim: revolusi belum selesai. Serbuan masih terus dilakukan –yang terlihat seperti ludruk itu. Taiwan, kata si penembak, tetap harus direbut.

Di tangan Mao Zedong negara tidak kian baik. Kian buruk lagi setelah Revolusi Kebudayaan. Itulah tipping point ketiga.

mungkin juga sulit membangun Tiongkok kalau tipping point belum terjadi.

Sejak 1975 itu Tiongkok bergerak maju.

Tentu kali ini, di zaman Xi Jinping ini, meneruskan revolusi tidak berhenti. Sebelum Taiwan direbut. Kali ini tidak lagi pakai tembakan kaleng-kaleng. Persenjataan Tiongkok sudah sangat modern. Serbuan militer tinggal tunggu waktu.

Kabelnya sudah banyak yang terkelupas.

Kapan?

Nunggu korsleting sendiri.

Atau menunggu ada yang secara sembunyi-sembunyi mengkorsletkannya.

Xi Jinping berkata: yang terbaik adalah secara damai, tapi kalau perlu dengan kekerasan.

Pernah ditempuh cara ini: menunggu saja sampai ada partai pro-penyatuan memenangkan pemilu di Taiwan.

Tidak berhasil. Justru yang menang kian anti-penyatuan. Seperti yang berkuasa sekarang.

Bagi Tiongkok momentum ”emas”-nya tentu sekarang ini. Ketika Amerika baru saja kalah ganda: oleh Covid dan oleh Taliban.

Amerika lagi sangat menyesali diri. Mengapa harus terlibat perang di Afghanistan. Yang terlama dalam sejarahnya. Yang dirasakan sia-sia saja.

Amerika juga seperti lagi ogah-ogahan perang. Anda sudah tahu: pun di kala hubungan Amerika-Tiongkok sudah seperti bisul yang mau meletus, panglima tertinggi militer Amerika menelepon panglima militer Tiongkok. Ia jamin Amerika tidak akan memulai perang. (Disway 19 September 2021: PHP Milley).

Tentu motif telepon itu bukan karena militer Amerika takut perang. Bisa jadi, telepon itu sekadar mengantisipasi gejolak emosi Presiden Donald Trump yang mirip irama jantung orang kaget.

Saya tidak tahu seperti apa irama jantung Xi Jinping. Yang jelas kian banyak jantung tokoh politik di Taiwan yang perlu lebih sering disentuh stetoskop. (Dahlan Iskan)

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video