Bisnis Kuburan dan Tren Anak Muda Kembali Tekuni Pertanian

Editor: mma
Minggu, 24 Oktober 2021 11:16 WIB

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Tren – termasuk durian – tampaknya mulai naik daun. Namun ada juga yang justru . Loh? Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, di Disway, Minggu 24 Oktober 2021 pagi ini.

Di bawah ini BANGSAONLINE.com yang menurunkan secara lengkap. Khusus pembaca di BaBe, sebaiknya klik ‘lihat artikel asli’ di bagian akhir tulisan ini. Tulisan di BaBe banyak yang terpotong sehingga tak lengkap. Selamat membaca:

SAYA di Gunung Kawi kemarin. Di dekat-dekatnya. Ada Mas Yanto di situ. Yang lagi melakukan ''kekejaman'' rutinnya: ia petik buah-buah durian yang masih kecil. Ia buang ke tanah.

Saya berteriak-teriak di depannya. Saya tidak tahan menyaksikan ''kekejaman'' Mas Yanto itu. Eman sekali. Begitu banyak pentil durian yang ia renggut dari dahan. Untuk dia buang begitu saja.

Saya tidak sampai hati melihatnya. Tapi pohon durian itu miliknya sendiri. Saya tamu di kebun itu. Hati saya teriris setiap kali tangan Mas Yanto meraih pentil durian, merenggutnya dan membuangnya.

Pentil? "Bahasa Jawa?" adalah buah yang masih kecil. Masih sangat muda. Masih bayi. Kebun durian Mas Yanto sedang memasuki musim pentil. Satu pohon bisa memiliki 100 pentil lebih. Kalau semuanya bisa membesar menjadi durian alangkah lebatnya buah di pohon itu.

Itu tidak mungkin. Sebagian besar, pentil itu, akan jatuh sendiri ke tanah. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Atau depannya lagi.

Mas Yanto tidak mau itu. Sama-sama akhirnya rontok lebih baik digugurkan saat masih sangat kecil. Agar sari makanan yang dari pohon bisa fokus untuk membesarkan pentil-pentil yang bentuknya sempurna.

Mas Yanto bisa membedakan mana pentil yang akan menjadi durian dan mana yang akan gugur muda. Toh kalau semua menjadi buah dahannya tidak akan kuat. Satu dada wanita bisa digantungi dua gunung besar, tapi satu dahan durian akan patah digantungi begitu banyak buah.

Mas Yanto membatasi satu dahan hanya boleh digantungi 4 durian. Agar kualitas duriannya sempurna. Maka Mas Yanto tega saja hanya menyisakan 4 pentil di antara puluhan yang ada di satu dahan.

Dengan policy satu dahan cukup empat buah saja, toh satu pohon sudah bisa berisi 30 sampai 40 buah. Itu sudah sangat baik. Asal semuanya berkualitas Marilyn Monroe.

Mas Yanto punya 60 pohon dan 30 pohon Musang King. Itu yang di 3.000 meter tanah miliknya sendiri. Masih lebih banyak pohon durian lain di tanah yang ia sewa. Ada juga pohon durian hasil kerja sama dengan teman-temannya.

Berada di kebun durian Mas Yanto ini sangat menyenangkan. Pohon-pohonnya baru berumur 7 tahun. Ibarat gadis masih Gisel semua. Masih belum menjulang tinggi. Dahan-dahannya begitu banyak. Bentangan ke sampingnya begitu lebar. Jarak antar pohonnya memang hanya 8 meter.

Daun dari pohon satu sampai bersentuhan dengan daun dari pohon sebelahnya. Kebun ini terasa padat, subur, rapi dan menyenangkan. Dahan terbawahnya kurang satu meter dari tanah. Banyak buah durian yang bisa dipetik tanpa memanjatnya.

Saat Mas Yanto mendekati pagar ia melihat satu durian tergeletak di tanah: baru saja jatuh. Saya dipanggil untuk mendekat. "Pak Dahlan beruntung, ada durian jatuh," katanya. "Ini Musang King," tambahnya.

Saya pun berhoreee. Lalu mendongak. Masih banyak Musang King bergelantungan di atas sana. Mas Yanto minta agar saya menjauh. Khawatir kejatuhan yang lain.

"Kok pohon yang satu ini tinggi sekali. Tidak seperti lainnya?" tanya saya. "Dulu ada satu pohon durian yang sudah besar di sini. Tidak pernah mau berbuah. Lalu saya lakukan topwork," katanya.

Topwork yang dimaksud: pohon durian kampung dipotong, untuk disambung dengan durian Musang King. Dengan demikian, bagian bawahnya: pohon durian jenis lama. Bagian atasnya: pohon durian jenis Musang King.

Sambil membawa durian runtuh itu kami ke teras rumah Mas Yanto. Saya berpapasan dengan banyak tamu. Kebun ini memang terkenal sebagai tempat belajar. Letaknya hanya satu jam bermobil dari kota Malang. Ke arah Gunung Kawi.

Menyapa tamu sambil bawa durian jatuhan.

Mereka itu juga lagi melihat-lihat kebun Mas Yanto.

"Dari mana?" tanya saya dalam bahasa Mandarin.

"Dari Jakarta," jawabnya.

"Mau beli durian atau mau dagang durian?"

“Kalau bisa dua-duanya," jawabnya.

Kami pun membuka durian runtuh di teras itu. Kami duduk menghadap ke Gunung Kawi. "Ini Musang King beneran," komentar saya setelah memperebutkannya dengan istri saya.

Tamu dari Jakarta itu membuka . Ukurannya sangat besar. Saya permisi untuk mencicipinya, barang satu ruas: manis pahitnya ideal sekali. Sama dengan yang dikirim Mas Yanto dari Tegal dua minggu lalu.

Saya bangga: sudah punya standar rasa. Itu yang harus dijaga. Jangan sampai nama jualnya bawor tapi rasanya slebor.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video