Bisnis Kuburan dan Tren Anak Muda Kembali Tekuni Pertanian

Editor: mma
Minggu, 24 Oktober 2021 11:16 WIB

Dahlan Iskan

Saya berkenalan dengan tamu dari Jakarta itu: Gunawan Wijaya. Bisnis yang digelutinya istimewa: kuburan. Ia punya tanah kuburan seluas 70 hektare. Di Karawang. Sejak tahun 2003. Jauh sebelum Lippo memasuki bisnis tanah makam di dekatnya: San Diego, yang luasnya 400 hektare.

"Saya belajar bisnis pemakaman dari Malaysia," ujar Gunawan yang asli Pekalongan. Ia pernah survei di negara tetangga itu. Di sana sudah ada perusahaan pemakaman yang go public di pasar modal.

Gunawan lantas mengajak investor Malaysia. Yang diajak mau. Maka berdirilah perusahaan pemakaman PMA pertama di Indonesia.

Setahun kemudian Gunawan membuat perusahaan sendiri. Lokasinya di sebelah yang Malaysia itu: Graha Sentosa.

Gunawan ke Malang bersama istri dan ibunya. Juga seorang sepupunya yang berasal dari Tulungagung. Sang istrilah yang asyik bicara berdua dengan Mas Yanto. Kelihatannya deal: dari Malang dikirim ke Jakarta.

Mas Yanto hanya tamat STM. Lalu bekerja di perbengkelan karoseri mobil. Ayahnya, bertani. Menanam tebu. Turun temurun.

Ladang tebu itulah yang diubah Mas Yanto menjadi kebun durian. Kebiasaannya mengerjakan teknik di bengkel membuat kebunnya diurus secara teknik pula. Antar pohon itu dihubungkan dengan pipa air.

Mas Yanto tahu: pohon durian itu rakus air. Lewat pipa itulah, di musim kemarau, ia siram pohonnya tiga kali seminggu. Sekali siram banyak sekali. "Satu pohon sampai 750 liter," katanya. Itu lebih baik daripada disiram tiap hari @250 liter. Itu menyangkut bentuk pori-pori tanah.

Jangan sampai buntu karena salah penyiraman. Teras rumah Mas Yanto kian ramai. Lima pemuda datang menimbrung. Mereka adalah aktivis muda bidang pertanian nontradisional. Ada yang dokter, akuntan, pemulia tanah, dan ahli pembibitan. Mereka tergabung dalam kelompok ''Tandurian''. Ketuanya: dr Pandu Ari. Sudah berhenti praktik sebagai dokter.

Anggotanya sudah 3.000 orang. Mereka adalah anak muda yang bertekad kembali ke pertanian tapi dengan cara anak muda masa kini. Bersama mereka itu saya seperti menjadi punya new hope. Mereka muda. Intelektual. Dari desa. Kembali ke desa. Dengan cara yang berbeda.

Saya pun bertanya pada mereka: melihat perkembangan durian 8 tahun terakhir, kapan kita berhasil menjadi negara pengekspor durian?

“Proses belajar durian ini lama. Satu siklus belajar 5 tahun. Mungkin baru tercapai 20 tahun lagi," ujar R. Ahut F Hendrasul. Ia akuntan. Ia juga sudah mulai terjun ke kebun durian.

Pertanyaan lain: kapan durian Indonesia punya standar rasa? katakanlah lima rasa yang terbaik. Maksud saya: kapan aneka-ria rasa durian Indonesia itu tidak lagi mengganggu rasa yang utama.

"Masih lama. Menunggu mereka yang menanam Musang King, Bawor, Tembaga, dan yang unggul lainnya menjadi kaya. Setelah mereka terbukti kaya yang lain akan ikut," ujar Ahud.

Berita baiknya: sudah ada teknik topwork. aneka ria rasa itu tidak harus dibabat, untuk ditanam yang baru. Terlalu lama. Cukup dilakukan topwork.

Pertanyaan terakhir: ada berapa orang seperti Mas Yanto ini di seluruh Indonesia?

“Sedikit sekali".

"1.000?"

“Tidak ada".

"500?"

"Tidak sampai."

"300?"

"Mungkin".

"Di seluruh Malang ada berapa Mas Yanto?"

"Satu".

"Di seluruh Jatim?"

"Satu".

Saya pun ingat wiridan Butet: Air Susu Umi. (Dahlan Iskan) 

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video