BOJONEGORO (BANGSAONLINE.com) - Setelah beberapa hari kemarin Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro meluap, akhirnya status sungai tersebut mulai lepas siaga dan dinyatakan aman. Banjir luapan sungai terpanjang di pulau jawa itu terjadi sejak 4 April kemarin, beruntung air segera surut sehingga tidak menyebabkan kerugian yang banyak.
"Total kerugian banjir kemarin senilai Rp1.6 miliar," ungkap Bupati Bojonegoro, Suyoto Selasa (7/4).
Banjir kiriman dari daerah hulu tersebut telah merendam 1.665 hektare (ha) tanaman padi yang berada disepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Dari jumlah itu kerusakan tanaman padi seluas 261 ha. Selain itu banjir juga menggenangi jalan sepanjang 4.030 m, 9 rumah dan 1 sekolah.
"Wilayah yang terdampak banjir sebanyak tujuh desa yang tersebar di 18 desa di 32 dusun," ujar pria yang akrab disapa Kang Yoto itu.
Bupati merinci daerah yang terdampak banjir, diantaranya di Kecamatan Kanor terdapat lima desa yakni, Semambung, Piyak, Cangaan, Kabalan dan Simbatan. Kecamatan Bojonegoro, Ledok Wetan. Kecamatan Trucuk, Desa Sumbang timun dan Mori. Kecamatan Dander Desa Ngablak dan Ngulanan. Kecamatan Baureno Desa Kalisari, Lebaksari, Kadungrejo, Tanggungan. Kecamatan Balen Desa Kedung dowo, Sekaran dan Pilang gede. Kecamatan Kapas Des Bogo.
"Ini semua tidak lepas dari peran TNI, Polri, Pemkab, Pemdes, relawan dan warga yang menjadi kunci terhindarnya kerugian yang lebih besar," terangnya.
Meski saat ini kondisi Bengawan Solo sudah lepas siaga, namun Suyoto tetap meminta kepada warga yang tinggal di bantaran sungai untuk tetap waspada. Sebab, di daerah hulu diprediksi masih akan terjadi hujan deras selama beberapa hari kedepan.
"Kemungkin besar air kiriman dari hulu masih akan terjadi, karena BMKG wilayah Jawa Tengah masih memprediksi curah hujan bulan ini masih tinggi," pungkasnya.




