Apeng, Tersangka Korupsi Rp 78 T itu Awali Usaha Hiburan Malam, Panti Pijat Jalan Blora

Apeng, Tersangka Korupsi Rp 78 T itu Awali Usaha Hiburan Malam, Panti Pijat Jalan Blora Dahlan Iskan

JAKARTA, BANGSAONLINE.comApeng, tersangka dugaan korupsi Rp 78 triliun sempat buron. Uniknya, Apeng mengaku tak tahu kalau dirinya dicari Kejaksaan Agung. Kini ia pulang. Atau mau pualng.

Yang juga menarik, mengawali usaha hiburan malam. Panti pijat!

Tak percaya? Baca saja tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA hari ini, Senin 15 Agustus 2022. Atau di BANGSAONLINE. Selamat membaca: (PENGANTAR REDAKSI BANGSAONLINE).

APENG, pulanglah!

Ternyata Apeng sudah pulang. Hari ini. Atau kemarin. Atau bahkan kemarin dulu. Atau lusa. Setidaknya ia sudah mengatakan akan pulang.

Berarti hari ini, atau hari apa pun di bulan Agustus, Apeng bisa menghadap Kejaksaan Agung –memenuhi panggilan sebagai tersangka. Yakni kasus korupsi yang disebut ''yang terbesar'' dalam sejarah Indonesia: Rp 78 triliun.

Mungkin ini masa tersulit bagi Apeng. Sejak kecil ia hidup enak. Setidaknya secara ekonomi. Orang tuanya kaya. Punya perusahaan karet. Pabrik pengolahan getah. Tidak hanya satu. Di Sumatera Utara.

Tapi Apeng bukan anak manja. Di masa kecil ia tergolong ''nakal'' –jangan-jangan ini yang membuatnya sukses. Ia tidak mau meneruskan sekolah. Menginjak remaja ia pilih merantau ke Jakarta.

Tentu ia punya uang. Bahkan bisa pergi ke Thailand. Bisa menyalurkan masa mudanya di sana. Ia pun belajar sesuatu di sana. Ia seperti mendapat inspirasi bisnis dari sana: buka usaha hiburan malam. Di Jalan Blora, Jakarta.

Orang Jakarta sudah tahu semua reputasi Jalan Blora –saya orang Magetan. Di Jalan Blora ada hiburan malam bernama Shinta. Zaman dulu. Ketika Anda belum lahir. Rasanya, itulah panti pijat pertama dengan menu body massage di Indonesia. Setidaknya Apeng telah membuat sejarah di masa mudanya.

Jalan Blora tidak akan bisa seperti itu lagi. Apalagi sekarang: lima pejabat tinggi di Polri berasal dari Blora. Salah satunya putra penjual soto di Kopakan. Kini bintang satu. Padahal dulu sering telat sekolah karena harus bantu orang tua.

Kadiv Propam yang baru, pengganti Irjen Pol Ferdy Sambo, juga orang Blora: Irjen Pol Syahardiantono. Juga anak orang miskin. Sampai sekarang pun, sudah bintang dua, masih sederhana.

Yang bintang tiga: Komjen Agus Andri, SMA lulus 86, kini Kabareskrim. Asal Blora.

Brigjen Mardiono, SMA 88, Brigjen Mashudi (SMA 87), dan Brigjen Mas Gunarso (SMA 86) juga asli Blora.

Jalan Blora sudah berubah. Tidak selamanya Apeng di dunia hiburan malam. Ia akhirnya mengikuti jejak sang Ayah: masuk dunia industri. Di Jakarta. Ia bangun pabrik bijih plastik. Mungkin nama Shinta menjadi keberuntungannya: pabrik plastik itu pun diberi nama Shinta. Lengkapnya: Shinta Modern Plastic. Di jalan menuju Cengkareng. Rasanya, kalau tidak salah, partner-nya di pabrik ini juga orang Thailand.

Dari plastik, Apeng berkembang ke pipa. Ia mendirikan pabrik pipa. Pipa baja. Lalu berkembang lagi ke pabrik pipa PVC. Pabrik ini juga diberi nama depan Shinta.

Dari sinilah Apeng –nama KTP dan paspornya adalah Surya Darmadi– ikut masuk ke bisnis sawit. Juga membuka bank di kampung halamannya: Medan. Nama banknya: Bank Kesawan, di Jalan Kesawan.

Belakangan bank ini dijual. Tapi bisnis sawitnya berkembang sangat pesat. Di Riau. Di Jambi. Di Kalimantan. Penguasaan lahannya mencapai 160.000 hektare. Yang 30.000 hektare di antaranya menjadi masalah sekarang ini.

Tanah itu ternyata tanah negara. Yang dimintakan izin ke bupati Indragiri Hulu untuk dialihkan ke perusahaannya: ditanami sawit. Izin itu bisa didapat. Ada juga yang statusnya tanah hutan. Dimintakan izin ke gubernur Riau untuk diubah menjadi tanah perkebunan. Juga mendapat izin.

Hanya saja, belakangan, Apeng ketahuan menyogok. Bupati dan gubernur itu ditangkap. Diadili. Dijatuhi hukuman penjara –yang Anda sudah tahu: ringan sekali.

Maka Apeng pun terseret. Dijadikan tersangka. Mau ditangkap. Tidak ditemukan. Lalu dinyatakan buron.

Simak berita selengkapnya ...