KEDIRI, BANGSAONLINE.com - FKS (forum kabupaten sehat) Kabupaten Kediri berkolaborasi dengan FPRB (forum pengurangan risiko Bencana) setempat, menggelar sosialisasi sekolah sehat dan ramah sampah di SMP Negeri 1 Gampengrejo, Kamis (3/11/2022). Hal tersebut dilakukan untuk memberi pemahaman soal penanganan masalah sampah, terutama di sekolah.
Acara dibuka oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri, Mukhamat Muhsin, dengan peserta para guru dan karyawan SMP Negeri 1 Gampengrejo. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa pendidikan karakter harus dimula sedari dini.
"Guru itu sebagai contoh, karena semua tindakan dan perbuatan akan dilihat dan ditiru oleh murid. Termasuk didalam masalah penanganan dan pengolahan sampah. Apa yang dipelajari murid saat ini, akan menunjukkan hasilnya disaat mereka dewasa," kata Ketua FKS Kabupaten Kediri ini.
Kemudian, materi materi selanjutnya diberikan oleh Kepala Sekolah Sampah FPRB Kabupaten Kediri, Benny Prastya, dan wakilnya, Nino Subekti, serta Ketua FPRB Kabupaten Kediri, Ari Purnomo Adi.
Menurut Ari, sosialisasi terkait sampah juga sangat penting diberikan kepada para guru dan karyawan Sekolah. Karena murid akan melihat dan meniru apa yang dilakukan oleh gurunya.
"Program ini digagas sebagai pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam pengendalian dan penanggulangan sampah, terutama di lingkungan sekolah," ujarnya.
Ia menyebut, materi yang disampaikan antara lain pengenalan sampah dan problematika sampah terutama di Kabupaten Kediri.
"Bagaimana kita bertanggungjawab terhadap sampah yang kita hasilkan serta pentingnya mengajarkan perilaku yang baik kepada murid sekolah sedari awal," tuturnya.
Sementara itu, Benny Prastya menyebut pihaknya juga menyampaikan materi terkait teknik pengolahan sampah, mulai soal pemilihan sampah dengan membagi sampah menjadi dua yaitu sampah organik dan non organik.
"Sampah organik kita olah dengan berbagai cara seperti ember tumpuk, komposter dan sistem kalam yang bisa menghasilkan pupuk organik cair, kompos, dan magot," kata Benny.
Sedangkan untuk sampah non-organik, lanjut Benny, bisa dipilih dan dipilah. Yang mempunyai nilai ekonomis bisa dijual lagi dan bisa untuk bahan kerajinan seperti tas dan yang lain.
"Sisanya sekitar 10 - 20 % berupa residu dikirim ke TPA Dengan teknik ini, diharapkan bisa mengurangi sampah hingga 60 sampai dengan 80 %," pungkasnya.
Sosialisasi masalah sampah telah dilakukan oleh Disdik Kabupaten Kediri dengan menggandeng FPS dan FPRB kepada para kepala sekolah di Bumi Panjalu. Sosialisasi ini bertujuan agar sekolah yang ada di Kabupaten Kediri dapat mengelola sampah organik dan anorganik dimulai dari diri sendiri. (uji/mar)




