Dituntut Hukuman Mati, Penasihat Hukum Kasus Narkoba Sampaikan Pledoi

Dituntut Hukuman Mati, Penasihat Hukum Kasus Narkoba Sampaikan Pledoi Penasihat Hukum Muhammad Zidky Ferdianto saat ditemui awak media.

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Ketiga terdakwa Aryo Anggowo Mulyo (32), M Nafik Supriyanto (41), dan Hendrik Anggun Setiawan (32), sampaikan pledoi melalui Penasihat Hukum (PH).

Hal itu, karena Penasihat Hukum terdakwa keberatan dengan tuntutan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Baca Juga: Wanita Pengedar Sabu Seberat 24 Kg dan 20 Ribu Butir Ekstasi Bebas Dari Hukuman Mati, Kok Bisa?

Dalam sidang PH terdakwa Hendrik berharap terdakwa diputus hukuman seringan-ringannya. Hal itu disampaikan dihadapan Ketua Majelis Hakim Syafril Pardamean Batubara di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Selasa (16/1).

Sebelumnya, ketiga terdakwa terbukti mengedarkan sabu-sabu (SS) seberat 19,6 kg di Sidoarjo dan dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Penasihat Hukum terdakwa Hendrik, Muhammad Zidky Ferdianto mengatakan, atas tuntutan hukuman mati terhadap terdakwa 3 yaitu Hendrik dirasa tidak adil.

Baca Juga: Polresta Sidoarjo Ringkus 9 Pengedar Narkoba, Total Barang Bukti Senilai Rp1 Miliar

"Karena peran dari masing-masing terdakwa ini berbeda, betul bahwa mereka ini adalah seorang kurir. Tapi perannya mereka ini berbeda," ujarnya.

Menurut Ferdianto, selain melakukan pengambilan maupun pengedaran SS, Aryo juga berkoordinasi dengan seseorang yang bernama BK yang mana terindikasi sebagai bandara narkoba.

"Sesuai dengan keterangan terdakwa Nafik dan Hendrik ini, mereka hanya sebagai pengirim dan pengambil saja. Selebihnya, terdakwa Aryo sebagai koordinatornya," ungkapnya.

Baca Juga: Terancam Hukuman Mati, Pengedar Sabu Asal Sidoarjo ini Diduga Jaringan Napi Salah Satu Lapas

Sehingga, baik meranjau ataupun mengambil SS merupakan atas perintah dan persetujuan dari Aryo. Hendrik dan Nafik hanya mengikuti perintah saja.

"Selain itu, terkait dengan pengemasan, pengepakan dan lainnya, Aryo yang melakukan. Dalam persidangan sudah dijelaskan bahwa mereka menjadi kurir masih selama empat bulan," jelasnya.

Sebelumnya, pekerjaan Hendrik yang merupakah driver online dan bertemu dengan Aryo di Bandara Juanda hingga saling berkomunikasi.

Baca Juga: Kejari Tuban Musnahkan Barang Bukti Puluhan Ribu Rokok Ilegal dan Narkoba

"Awal mulanya dari situ, akhirnya Hendrik mau ditawari pekerjaan tersebut. Yang membuat Hendrik tertarik, karena dijanjikan fee pengiriman maupun pengambilan yang besar," terangnya.

Menurut pengakuan terdakwa, fee yang dijanjikan hanya angan belaka, terdakwa sama sekali belum menerima fee tersebut.

Diketahui, fee yang dijanjikan sekitar Rp 150 juta. Dalam pledoi ini pihaknya menyatakan keberatan, dikarenakan jaksa dapat melihat peranan masing-masing.

Baca Juga: Polda Jatim Ungkap Jaringan Narkoba Antar Pulau dari China

"Harusnya tidak memukul rata, karena kalau dipukul rata jelas tidak adil. Bagi terdakwa dua khususnya terdakwa tiga. Karena peran mereka berbeda-beda," tegasnya.

Ia berharap, dalam putusan majelis hakim dapat mempertimbangkan hal itu, dan masih memiliki hati nurani. Sehingga, dapat memandang peran mereka masing-masing.

"Dalam putusannya nanti terdakwa tiga Hendrik diputus seringan-ringannya," pungkasnya. (cat/rif)

Baca Juga: WBP Narkoba di Sidoarjo Ikuti Seminar Psikoedukasi untuk Kontrol Emosi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Polres Mejusi Bekuk Kurir Narkoba di Gerbang Tol Simpang Pematang':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO