Ia menjelaskan, bahwa temuan ini, tidak memakan biaya mahal, hanya sekitar Rp150.000 hingga Rp300.000. Nantinya, alat detektor tersebut, bisa dipasang dirumah-rumah sementara, home base dan sirine di pos satpam.
"Keberhasilan siswi SMPN 52 Surabaya menciptakan alat deteksi kebocoran LPG ini membuktikan bahwa Kota Pahlawan penuh generasi muda berbakat. Sangat solutif karena masih banyak kita dengar kebakaran akibat kebocoran LPG di Surabaya. Apalagi harganya juga murah," tuturnya.
Thony mengatakan, temuan anak-anak tersebut, dianggap sejalan dengan permasalahan yang sering ditemui di perkampungan di Surabaya. Menurutnya, kebakaran pun, sering dipicu karena adanya faktor kelalaian masyarakat.
Hal itu, dapat menjadi pemantik bagi seluruh warga, agar terus mengeksplorasi minat dan bakatnya.




