NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Ada cerita tersendiri di balik pemberangkatan haji Kabupaten Nganjuk Minggu (13/9) kemarin. Yakni, berangkatnya Rodiah (65) warga kelurahan Payaman Kecamatan Kota Nganjuk, yang merupakan seorang pedagang asongan di terminal bus Anjuk Ladang.
Rodiah menceritakan jika keinginannya untuk berangkat haji muncul sejak tahun 1997 silam. Kemudian ia mulai menabung dari hasil berjualan di terminal. Meskipun dagangan yang dijajakan hanya jajanan, kerupuk dan kacang yang dia bawa menggunakan sepada onthel, tetapi tekat kuatnya untuk pergi haji begitu kuat.
"Selain doa yang selalu saya panjatkan kepada Allah, saya juga berusaha sekuat tenaga. Saya bangun sejak jam 03.00 WIB, dan aktivitas saya awali dengan melaksanakan sholat subuh," ujar Rodiah menceritakan kehidupan sehari-harinya.
Karena kegigihannya itu, pada tahun 2009 Rodiah bisa mendaftarkan diri menjadi calon jemaah haji. Dan berangkat ketanah suci tahun 2015 dengan kelompok terbang (kloter) 59.
Sujono tetangga Rodiah mengaku tidak percaya kalau Rodiah bisa naik haji. "Biaya naik haji untuk ukuran orang seperti kita kan mahal, makanya saya sempat kagum mendengar Rodiah berangkat haji," ungkapnya.
Sujono juga mengungkapkan jika kehidupannya yang sangat sederhana, membuat siapa saja pasti tidak ada yang menyangka kalau dia bisa melakukan ibadah ke tanah suci. Bukan dirinya saja yang merasa heran, tetangga yang lain banyak yang heran juga. "Kayak senetron saja," guraunya.
Rodiah sendiri mengaku sudah siap lahir batin. Ditanya terkait masalah badai yang saat ini sedang melanda Arab Saudi, dengan tegas dia menyatakan tidak ada sedikitpun rasa takut menghadapinya. "Semua sudah saya pasrahkan kepada Allah, niat baik saya insyaallah mendapat lindungan Allah," ungkapnya.
Keberangkatan Rodiah ke pendopo Kabupaten tempat berkumpulnya calon jamaah haji juga hanya menaiki becak, tidak seperti jamaah yang lain yang di antar dengan menggunakan mobil mewah. "Saya tidak punya mobil, makannya saya naik becak saja," tambahnya.
Yang paling memilukan saat Adzan dikumandangkan tanda Rodiah akan menuju pendopo, dia tak kuasa menahan air mata. Isak tangis pecah karena hampir semua tetangga yang mengantar keberangkatan Rodiah menangis haru. Air mata berlinangan di pipi para tetangga Rodiah.
Selamat jalan Rodiah, semoga menjadi Haji Mabrur. (dit/rvl)




