Eko Setijadi menunjukkan miniatur antena yang digagasnya guna meningkatkan jaringan internet 5G pada ruangan. Foto: Ist.
Tak hanya itu, Eko juga mengembangkan rentang frekuensi penyebaran sinyal agar antena dapat beroperasi secara efektif. Inovasi yang disebut pengembangan bandwidth ini dilakukan Eko dengan menambahkan struktur U slot pada permukaan logam.
“Jika slot utama disambungkan daya, adanya U slot mampu memperlebar frekuensi sinyal sembilan kali lipat atau setara dengan 1.2 GHz,” bebernya.
Melalui hasil yang memuaskan tersebut, Eko menggabungkan kedua inovasinya secara simultan agar dapat memberikan dampak yang lebih signifikan. Hal ini ia lakukan dengan menambahkan struktur periodik atau mematerial (MM) untuk memberikan indikasi adanya indeks bias negatif pada material.
“Metode ini mampu memperlebar bandwidth hingga 1,79 GHz dengan peningkatan gain mencapai 15 dB,” ungkap lelaki asal Sidoarjo tersebut.
Dengan ketiga metode yang digagasnya, Eko mengimplementasikannya dalam bentuk miniatur antena berukuran 3x4 sentimeter. Menurutnya, antena yang berhasil ia bentuk dengan ukuran kompak dan performa yang lebih stabil mampu memberikan efek yang berdampak pada bidang teknologi. Hal ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 9 yaitu infrastruktur, industri, dan inovasi.
Eko berharap, metode yang ia gagas dapat memotivasi para praktisi dan akademisi untuk mengembangkan inovasi lainnya di bidang teknologi antena. Jika teknologi antena bisa dikembangkan lebih jauh, maka teknologi informasi, komunikasi, hingga otomatisasi mampu dikuasai dengan baik.
“Dengan demikian, teknologi antena mampu memicu kemandirian teknologi untuk kedaulatan Bangsa Indonesia,” pungkasnya. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




