Adab Kadang Lebih Utama daripada Syariat, Imam Syafi'i tak Qunut Subuh saat Ziarah Makam Imam Hanafi

KH Fahmi Amrullah Hadzik (Gus Fahmi) saat Kitab At Tibyan karya Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam acara Halal Bihalal Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Surabaya di kediaman M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE di Surabaya, Ahad (20/4/2025). Foto: bangsaonline

Padahal, tegas Gus Fahmi, Imam Syafi’i menghukumi sunnah membaca qunut ketika salat Subuh. Sedangkan Imam Hanafi (Abu Hanifah) tidak menghukumi sunnah baca qunut dalam shalat Subuh.

Karena itu, “Ketika Imam Syafi’i ditanya, kenapa Kiai, kok tidak pakai qunut. Imam Syafi’i menjawab saya menghormati guru saya, sebab Imam Hanafi tidak menghukumi sunnah qunut Subuh. Kenapa menghormati? Karena menjaga adab,” jelas Gus Fahmi di depan para alumni Pesantren Tebuireng kota Surabaya yang memenuhi teras dan ruang tamu rumah Mas’ud Adnan yang juga alumnus Pesantren Tebuireng.

Menurut Gus Fahmi, membaca qunut itu hukumnya sunnah. “Qunut itu kan sunnah. Sedangkan menghormati guru itu wajib. Jadi jangan sampai perkara yang sunnah itu mengalahkan yang wajib. Ini penting,” tegas Gus Fahmi yang kini menjabat Ketua PCNU Kabupaten Jombang.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: