Membaca kitab-kitab tersebut bukanlah sekadar aktivitas akademis, melainkan sebuah perjalanan spiritual warisan masa lalu Islam ketika era golden age yang membawa kita pada pemahaman yang lebih kompleks, terkait diri kita, masyarakat, dan Tuhan. Buku-buku itu adalah gerbang yang membuka kita pada khazanah intelektual Islam yang kaya dan mendalam.
Dalam konteks ini, MQK Nasional yang diadakan FPTP dan PKB adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk merefleksikan diri kita sendiri, untuk memahami lebih dalam tentang ajaran-ajaran Islam terkait relasi kebangsaam dan keumatan, serta membawa Islam ke depan dengan cara yang lebih baik dengan basis rahmatan lilalamin.
Kitab kuning merupakan warisan keilmuan Islam klasik (turâts) yang mengandung kekayaan pemikiran dalam berbagai bidang, termasuk fiqih siyasah (politik Islam). Di tengah dinamika politik kontemporer, kesadaran santri dan komunitas pesantren terhadap nilai-nilai politik Islam dalam kitab kuning sangat diperlukan.
Tradisi keilmuan pesantren yang berakar pada kritik teks dan pemahaman kontekstual, seharusnya dapat menjadi fondasi bagi keterlibatan aktif santri dalam percaturan politik kebangsaan yang berintegritas. Namun demikian, keterlibatan santri dan komunitas pesantren dalam dunia politik seringkali bersifat pasif atau simbolik.










