Saat Hati Berhenti Berlari Mengejar Panilaian Manusia

Saat Hati Berhenti Berlari Mengejar Panilaian Manusia Gus Bahar. Foto: dok. pribadi

Oleh: | Pesantren Salafiyah Seblak

Ada satu kelelahan yang jarang disadari, namun perlahan menggerogoti kebahagiaan kita sehari-hari: keinginan untuk dipahami oleh semua orang. Kita sudah menjelaskan sesuatu sejernih mungkin, masih saja disalahpahami. Kita sudah berbuat baik tanpa pamrih, masih saja dicurigai menyembunyikan kepentingan. Kita sudah berusaha membantu dengan tulus, masih saja dituduh ingin dipuji. 

Lalu hati kecil kita bertanya dengan letih, “Kurang apa lagi yang harus aku lakukan?”

Jawabannya mungkin tidak nyaman untuk didengar: bukan karena kita kurang berbuat, tetapi karena kita sedang belajar satu pelajaran hidup paling dewasa—bahwa tidak semua orang dirancang untuk mengerti perjalanan kita.

Sejak kecil, kita terbiasa mencari penerimaan. Kita senang ketika dipuji, hancur ketika dicela. Kita tenang ketika didukung, gelisah ketika ditinggalkan. Tanpa disadari, ketenangan hidup kita ikut ditentukan oleh sikap manusia di sekitar. Jika mereka senang kepada kita, hati pun teduh. Jika mereka berubah sikap, hati kita ikut berubah. Pujian membuat semangat melambung, cibiran membuat semangat merosot. Tanpa sadar kemudi hati seperti itu sedang kita serahkan ke tangan orang lain.

Padahal manusia itu berubah-ubah. Hari ini ia mendukung, besok belum tentu. Hari ini ia memuji, lusa bisa saja mengkritik tajam. Hari ini ia dekat, suatu saat ia bisa menjauh tanpa alasan yang jelas. Jika hati kita bergantung kepada sesuatu yang selalu berubah, maka hidup akan berada dalam goyangan terus-menerus. Seperti kapal yang berpacu pada ombak, ia akan oleng setiap kali badai datang.

Para alim ulama di masa lalu mengajarkan satu prinsip sederhana namun luar biasa kuatnya: berbuat baiklah kepada manusia, tetapi jangan menggantungkan ketenangan hatimu kepada mereka. Ini bukan ajakan menjadi antipati, sombong, atau masa bodoh. Justru sebaliknya. Ini adalah pintu menuju cinta yang lebih sehat, lebih dewasa, dan lebih ringan.

Kita tetap menghormati orang lain, tetap mendengarkan masukan, tetap menerima kritik yang membangun, serta tetap menjaga silaturahmi. Hanya saja, di kedalaman hati kita tanam kesadaran yang kokoh: penilaian manusia bukanlah sumber ketenangan sejati. Kembalikan semua hanya pada Allah SWT.

Karena jika ketenangan hidup kita bergantung pada manusia, kita akan sibuk mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai. Namanya “menyenangkan semua orang”—sebuah beban yang tidak pernah dititipkan kepada siapa pun di dunia ini.

Perhatikan di sekitar kita. Ada yang lelah karena ingin semua orang menyukainya. Ada yang sakit hati karena ingin semua orang setuju dengan pandangannya. Ada yang stres karena ingin membersihkan semua prasangka buruk orang terhadap dirinya. Padahal, pekerjaan itu tidak akan pernah rampung. Bahkan orang-orang terbaik dalam sejarah—para nabi, pemimpin besar, dan tokoh bijak—tetap memiliki lawan, pencela, dan orang yang salah paham. Seorang nabi dituduh gila, nabi lain disebut tukang sihir, dan ada juga yang dicaci sebagai pujangga yang sesat. 

Jika manusia-manusia istimewa itu saja tidak luput dari kesalahpahaman, lalu mengapa kita begitu mati-matian mengejar validasi semua orang?

Salah satu kelemahan kita adalah fokus berlebihan pada satu orang yang menjauhi, sampai lupa puluhan orang yang masih setia mendampingi. Kita terlalu sibuk memikirkan satu pintu yang tertutup, sampai lupa bahwa masih banyak pintu lain yang terbuka lebar. Kita menghabiskan energi mengingat satu kritik pedas, sampai lupa puluhan pujian tulus yang pernah kita terima.

Coba renungkan sejenak. Siapa saja yang masih ada di sekeliling kita saat ini? Siapa yang tanpa pamrih mendoakan langkah kita? Siapa yang tetap percaya meskipun orang lain meragukan? Siapa yang diam-diam hadir ketika kita tidak sedang menjadi versi terbaik dari diri kita? Bukankah kehadiran mereka adalah karunia yang jauh lebih berharga daripada kepergian seseorang yang terus-menerus mencari-cari kesalahan kita?

Hidup bukanlah tentang siapa yang pergi. Hidup lebih sering tentang siapa yang masih dihadirkan di sekeliling kita. 

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO