William Yani Wea Delegasi dari KSPSI AGN pada ILC 114 di Jenewa, Swiss menyuarakan kebebasan berserikat dan solidaritas untuk Rohingya
JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Delegasi Pekerja Indonesia menyoroti krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya dalam Sidang Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.
Isu tersebut mengemuka dalam pembahasan Committee on the Application of Standards (CAS), salah satu komite utama dalam sistem pengawasan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
BACA JUGA:
Melalui CAS, negara-negara anggota dievaluasi terkait pelaksanaan konvensi ILO yang telah diratifikasi, termasuk mengenai kebebasan berserikat, hak berunding bersama, penghapusan kerja paksa, penghapusan diskriminasi, serta perlindungan hak-hak dasar pekerja.
Dalam forum tersebut, Delegasi Pekerja Indonesia yang diwakili William Yani Wea dari KSPSI AGN menyampaikan keprihatinan terhadap memburuknya kondisi kemanusiaan yang dialami masyarakat Rohingya dan masih terjadinya berbagai pelanggaran hak-hak fundamental.
Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (SP OMPPI) itu menilai krisis yang dialami Rohingya tidak hanya tercermin dari besarnya jumlah pengungsi, tetapi juga dari hilangnya tempat tinggal, pekerjaan, dan harapan masa depan mereka.
"Persoalan Myanmar bukan hanya persoalan sebuah negara, melainkan ujian bagi komitmen dunia internasional terhadap keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap hak-hak fundamental manusia. Kita tidak boleh membiarkan penderitaan menjadi sesuatu yang dianggap normal," kata pria yang akrab disapa Willy itu dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Sidang tersebut juga dihadiri sejumlah perwakilan Delegasi Pekerja Indonesia dari berbagai organisasi serikat pekerja nasional, antara lain Tony Pangaribuan dari KSPSI AGN, Muhamad Rusdi selaku Presiden Konfederasi ASPEK Indonesia, dan Rudy HB Daman dari GSBI.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




