1 Muharram 1448: Hijrah Menuju Indonesia Terang

1 Muharram 1448: Hijrah Menuju Indonesia Terang Firman Syah Ali, Analis Kebijakan Publik dan Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP).

Oleh : Firman Syah Ali

Secara etimologis, hijrah berarti memutuskan hubungan. Setiap zaman punya tantangannya sendiri, dan punya hijrahnya sendiri. Zaman Nabi Muhammad di Mekkah tantangannya adalah kafir Quraisy yang menolak risalah Muhammad SAW karena mereka takut kehilangan kontrol terhadap ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan Kota Mekkah.

Zaman now, tantangan umat Islam Indonesia bukan lagi para penentang risalah seperti di masa silam, melainkan kartel, cukong, mafia dan koruptor yang justru menafikan raison d'être kerasulan Muhammad SAW.

Maka Hijrah kali ini bukan lagi soal berpindah tempat (geografis) seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, melainkan berpindah dari "zona nyaman kemungkaran dan kegelapan korupsi" menuju "cahaya integritas".

Berikut tawaran langkah-langkah hijrah dari zona nyaman kemungkaran korupsi menuju zona integritas.

Pertama, Hijrah Mentalitas. Hentikan banalisasi budaya Asal Bapak Senang dan budaya setoran. Hijrahlah menuju budaya Asal Tuhan Senang dan budaya anti suap.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO