KEDIRI,BANGSAONLINE.com - Kuota peserta didik jenjang Sekolah Dasar (SD) di Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Kediri tidak memenuhi target menjelang dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Dari target tiga rombongan belajar (rombel) atau sekitar 90 siswa, hanya satu rombel berisi 30 siswa yang berhasil terpenuhi.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri, Subur Widono, mengatakan kekurangan peserta didik di jenjang SD membuat pemerintah pusat memutuskan mengalihkan sisa kuota ke jenjang SMP dan SMA.
"Untuk SD akhirnya kita hanya bisa memenuhi satu rombel. Kebijakan dari kementerian, rombel yang tersisa kemudian dilimpahkan ke SMP dan SMA," kata Subur, Jumat (10/7/2026).
Dengan kebijakan tersebut, jumlah rombongan belajar untuk jenjang SMP dan SMA bertambah. Semula masing-masing direncanakan tiga rombel, kini menjadi empat rombel setelah memperoleh tambahan kuota dari jenjang SD.
Menurut Subur, kebijakan tersebut diambil karena waktu pelaksanaan tahun ajaran baru sudah sangat dekat sehingga tidak memungkinkan dilakukan proses penjaringan ulang bagi calon peserta didik SD.
"Karena waktunya sudah semakin mendesak, kebijakan dari pusat adalah memenuhi kuota itu melalui jenjang di atasnya," jelasnya.
Meski kuota SD belum terpenuhi, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal.
MPLS akan dimulai pada 14 Juli 2026, sekaligus menjadi momen pertama para siswa menempati gedung baru yang mulai dibangun pada awal tahun ini.
"Pada hari pertama, tanggal 14 Juli, para siswa akan langsung memasuki asrama untuk mengikuti rangkaian MPLS sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru," katanya.
Setelah menjalani masa adaptasi, seluruh peserta didik dijadwalkan mengikuti pemeriksaan kesehatan yang difasilitasi Dinas Sosial bersama tim terkait.
"Rencananya cek kesehatan dilaksanakan setelah MPLS. Kami ingin anak-anak beradaptasi dulu, istirahat cukup, baru dilakukan pemeriksaan kesehatan," terang Subur.
Subur memastikan sarana dan prasarana Sekolah Rakyat secara fungsional telah siap digunakan meski proses penyempurnaan bangunan masih terus dilakukan.
"Belum selesai seratus persen, tetapi secara fungsi beberapa fasilitas sudah bisa digunakan sehingga kegiatan belajar dapat dimulai," ujarnya.
Sementara itu, perpindahan siswa SMA dari gedung lama Sekolah Rakyat di Desa Tarokan ke gedung baru di Kecamatan Plosoklaten dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli 2026 setelah seluruh persiapan bangunan rampung.
Subur menegaskan proses penjaringan peserta didik sejak awal dilakukan melalui pendekatan langsung kepada keluarga. Petugas mendatangi rumah calon siswa untuk memastikan keikutsertaan mereka mendapat persetujuan dari anak maupun orang tua.
"Kami tidak pernah memaksa. Sejak awal kami datang ke rumah-rumah, berdialog dengan anak dan orang tua. Semua sudah memahami program ini dan bersedia mengikuti Sekolah Rakyat," katanya.
Ia berharap orang tua terus memberikan dukungan kepada anak-anak selama menjalani pendidikan berasrama agar mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan mengikuti proses belajar dengan baik.
"Kami mohon doa dan dukungan dari para orang tua agar anak-anak diberikan kesehatan, mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan bisa mengikuti pendidikan dengan baik. Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak sesuai haknya," pungkasnya. (uji/van)










