KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Ratusan petani penggarap lahan Perhutani dari wilayah lereng Gunung Kelud menggelar aksi damai di depan Kantor Perhutani Kediri, Jalan Hasanudin, Senin (20/7/2026).
Mereka menolak adanya tekanan terhadap Perhutani dan meminta pihak yang tidak berwenang di bidang kehutanan untuk tidak mencampuri pengelolaan hutan. Para petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Hutan Kelud Raya mengaku telah bermitra dengan Perhutani selama lebih dari 20 tahun.
“Tujuan kita adalah mendukung Perhutani. Karena kawasan hutan yang kita garap ada yang men-status quo, dan melarang kita bergerak di hutan, maka kita akan lawan. Karena kami adalah mitra Perhutani, dan kita punya PKS (Perjanjian Kerja Sama). Luas lahannya sekitar 2 ribu hektare,” kata Sugianto, koordinator aksi.
Aksi berlangsung damai hingga perwakilan Perhutani menemui massa dan menyampaikan apresiasi atas dukungan mereka. Namun, tidak lama kemudian massa dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) juga menggelar unjuk rasa di lokasi yang sama.
Mereka menuntut transparansi pengelolaan kawasan hutan serta mempertanyakan hasil uang sewa lahan.
“Kami sebagai anggota tidak pernah diberikan hak. Selain itu, kami juga mempertanyakan uang sewa selama ini kemana. Masak Perhutani mengaku rugi, padahal pendapatan dari tanaman tegakan itu ada, nilainya miliaran rupiah,” ujar Lucius Sugianto, wakil Panglima Koordinator SPSI Kabupaten Kediri.
Untuk menghindari bentrok antar dua kubu, aparat memasang barikade dan memisahkan massa. Ketegangan sempat terjadi saat kelompok pro-Perhutani berusaha menerobos barikade, namun situasi berhasil dikendalikan. (uji/mar)










