MALANG, BANGSAONLINE.com - Festival Mbois memasuki penyelenggaraan ke-11 dengan konsep baru sebagai gerakan kolaboratif yang menghubungkan ekonomi kreatif, olahraga, koperasi, dan pemberdayaan pemuda. Acara ini akan berlangsung di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada 21-23 Agustus 2026.
Pemilihan Stadion Gajayana bukan hanya karena kapasitasnya, tetapi juga nilai historisnya. Stadion yang dibangun pada 1924 dan mulai digunakan pada 1926 itu kini genap berusia 100 tahun, tercatat sebagai stadion tertua di Indonesia yang masih aktif digunakan.
Koordinator Malang Creative Fusion (MCF) sekaligus Ketua Harian Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Vicky Arief Herinadhrama, menyebut Festival Mbois terus berevolusi mengikuti perkembangan ekosistem kreatif.
“Tahun ini kami ingin melangkah lebih jauh. Festival Mbois tidak hanya menjadi ruang pamer karya kreatif, tetapi titik temu berbagai kekuatan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif berkelanjutan,” ujarnya dalam Maklumat Media di Malang Creative Center, Selasa (21/7/2026).
Menurut dia, momentum satu abad Stadion Gajayana menjadi strategi menghadirkan konsep baru yang mengawinkan sport, ekonomi kreatif, koperasi, dan gerakan kepemudaan.
“Kami ingin membangun narasi bahwa aset bersejarah seperti Stadion Gajayana bisa menjadi pusat aktivitas kreatif yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Festival Mbois 11 bertema 'Malang Menyala' akan melibatkan KONI, Dekopin, Karang Taruna, serta jaringan pelaku ekonomi kreatif lintas sektor dalam kolaborasi hexahelix. Kepala Disporapar Kota Malang, Baihaqi, menegaskan acara ini menjadi salah satu agenda terbesar tahun ini karena mendapat dukungan lintas kementerian.
“Festival ini mendapat perhatian dari Kemenpora, Kemenparekraf, Kementerian Koperasi, hingga Staf Khusus Presiden. Mereka melihat Festival Mbois 11 sebagai wadah integrasi program nasional melalui ekonomi kreatif,” paparnya.
Sebanyak 17 subsektor ekonomi kreatif akan ditampilkan. Baihaqi optimistis kegiatan ini memperkuat posisi Malang sebagai pusat ekonomi kreatif nasional.
“Momentum 100 tahun Stadion Gajayana harus menjadi energi baru untuk menggerakkan kreativitas, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus mempertegas identitas Kota Malang sebagai kota kreatif,” pungkasnya. (dad/mar)







