Oleh: Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak
Pernahkah kita membayangkan suasana sebuah dapur rumah makan yang sangat sibuk? Di
dapur itu, ada dua jenis juru masak dengan cara kerja yang berbeda. Juru masak pertama
bekerja sangat teliti. Ia menimbang bumbu hingga ukuran terkecil, memotong daging dengan
ukuran yang persis sama, dan menyajikan makanan tepat waktu sesuai aturan resep. Ia adalah
gambaran dari seorang profesional. Semuanya terukur, teratur, dan memiliki nilai hitungan
yang pasti.
Di sebelahnya, ada juru masak kedua. Ia menguasai semua ketelitian resep yang sama dengan
juru masak pertama. Namun, ketika menyusun hidangan di atas piring, ia memikirkan siapa
yang akan memakannya. Apakah orang tersebut sedang kelaparan? Apakah ia sedang dilanda
kesedihan? Ada sentuhan kepedulian, doa, dan ketulusan dalam setiap adonan yang ia buat.
Ketika makanan itu sampai di meja, orang yang memakannya tidak hanya merasa kenyang,
tetapi juga merasa disapa dan dimuliakan jiwanya. Inilah yang kita sebut sebagai khidmat.
Namun, bayangkan jika pemilik rumah makan tiba-tiba berkata kepada juru masak kedua
bahwa karena ia memasak dengan penuh ketulusan, maka gaji bulanan yang diterimanya
akan dipotong setengah. Pemilik itu beralasan bahwa ketulusan adalah urusan pahala akhirat,
bukan urusan uang. Di sinilah letak luka mendalam dalam masyarakat kita hari ini. Kita
sering kali memosisikan khidmat dan profesionalisme secara keliru, hingga tanpa sadar
melahirkan bentuk ketimpangan sosial baru yang begitu halus namun menjepit.
Dua Roda Sepeda: Memahami Batas Kerja dan Hati
Untuk memahami ketimpangan ini secara lebih jelas, mari kita bayangkan sebuah sepeda
ontel tua. Profesionalisme dapat diandaikan sebagai roda belakang. Roda belakang terhubung
langsung dengan rantai dan pedal. Tugas utamanya adalah memberikan dorongan,
keteraturan, dan daya gerak. Roda belakang inilah yang memastikan sepeda dapat berjalan
sesuai jalur, terukur kecepatannya, serta memiliki sistem pengereman yang pasti. Dalam
kehidupan nyata, roda belakang ini mewakili keahlian teknis, ketepatan waktu, kecakapan
kerja, dan kesepakatan upah yang adil. Tanpa adanya roda belakang, sepeda sama sekali tidak
akan bisa berpindah tempat.
Sementara itu, khidmat bertindak sebagai roda depan. Roda depan memang tidak terhubung
langsung dengan pedal pemutar, tetapi ia memegang stang kemudi. Dialah yang menentukan
arah tujuan, menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, dan memberikan rasa empati
sepanjang perjalanan. Khidmat adalah bentuk keikhlasan hati, kerendahan jiwa, serta niat
tulus untuk memberi manfaat bagi sesama tanpa melulu menghitung laba dan rugi. Tanpa
roda depan, sepeda mungkin tetap bisa bergerak kencang, tetapi ia akan sangat mudah
menabrak tembok kesombongan dan kekakuan.
Masalah sosial hari ini muncul karena dua keadaan yang sama-sama timpang. Kita sering melihat orang-orang menaiki sepeda yang hanya memiliki roda belakang, yaitu bekerja semata-mata demi uang dan aturan, dengan hati yang dingin dan kaku. Namun, ada keadaan yang jauh lebih parah, yaitu ketika para pimpinan atau sistem dalam masyarakat memaksa orang lain berjalan hanya dengan roda depan yang bernama khidmat, sementara roda belakang berupa hak dan upah yang layak justru dilepas dengan sengaja.
Jika kita menggali khazanah ajaran keagamaan dan pemikiran para filsuf, kita akan
menemukan bahwa khidmat dan profesionalisme sebenarnya tidak pernah dirancang untuk
saling memusuhi.
Dalam kedalaman makna Ayat Al Qur’an, ada sebuah seruan tegas yang disampaikan dalam
bentuk kalimat perintah yang lugas: "Bekerjalah kamu!". Dari sudut pandang estetika
kebahasaan (balaghah), struktur kalimat ini tidak sekadar bermakna anjuran, melainkan
sebuah kewajiban moril yang menuntut pembuktian nyata berupa karya yang berkualitas,
terukur, dan berdampak sosial. Kalimat itu kemudian ditutup dengan penegasan bahwa setiap
hasil kerja manusia tidak akan menguap begitu saja, melainkan berada dalam pengawasan
langsung dari Sang Pencipta, utusan-Nya, serta orang-orang beriman. Ini adalah pilar utama
profesionalisme: keahlian teknis yang dipadukan dengan kesadaran bahwa seluruh proses
kerja kita diamati oleh pengawas spiritual yang tak pernah tidur.
Pesan suci itu tidak berhenti di sana. Ukuran derajat kemuliaan seorang manusia di mata
Pencipta bukanlah seberapa tebal kantongnya setelah selesai bekerja, melainkan seberapa
besar manfaat dan kedamaian yang bisa ia alirkan bagi orang lain. Di titik inilah, keahlian
yang presisi tadi diangkat derajatnya oleh ketulusan hati (ikhlas). Pekerjaan tidak lagi sekadar
transaksi hitungan uang, melainkan menjadi bentuk ibadah yang bernyawa.
Para pemikir peradaban zaman dahulu, seperti Ibnu Khaldun yang membedah perjalanan
sejarah manusia, melihat bahwa peradaban yang runtuh selalu dimulai dari hilangnya rasa
persaudaraan dan kepedulian yang tulus. Ketika masyarakat berubah menjadi sangat berpusat
pada kehidupan kota yang materialistis, ikatan hati perlahan berganti menjadi hitung-
hitungan angka belaka.
Sejalan dengan pemikiran tersebut, pendidik jiwa tersohor seperti Imam Al-Ghazali pernah
mengingatkan adanya batas yang sangat tipis antara keikhlasan dan penipuan diri. Bekerja
mencari nafkah untuk keluarga adalah kewajiban yang sangat mulia. Namun, jika ada
penguasa atau pemilik modal yang menuntut para pekerja untuk bekerja seikhlas-ikhlasnya
sementara sang pemilik modal mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, itu bukanlah bentuk
khidmat. Itu adalah sebuah kejahatan yang dibungkus rapi dengan bahasa agama.
Bukan Perbudakan Berkedok Ikhlas: Keadilan Dulu, Baru
Pengabdian
Hari ini, jika kita bertanya kepada seorang tukang kayu, kuli bangunan, atau sopir angkutan
umum, mereka mungkin akan berkata bahwa tidak perlu berbicara terlalu tinggi mengenai
pengabdian atau keikhlasan, yang terpenting adalah pembayaran yang jelas dan pas.
Masyarakat kecil memilih sikap profesional yang kaku bukan karena mereka telah kehilangan
ketulusan, melainkan sebagai bentuk perisai diri. Mereka sudah terlalu sering dikhianati oleh
kata ikhlas. Betapa banyak guru honorer yang dibayar sangat murah dan diminta terus
berkhidmat demi bangsa, atau betapa banyak pekerja lapangan yang dituntut lembur tanpa
kompensasi dengan dalih rasa kekeluargaan.
Kata khidmat yang mestinya menjadi pakaian kemuliaan, telah diperalat menjadi instrumen
untuk memeras keringat. Pada akhirnya, orang-orang ekonomi lemah memilih
profesionalisme yang tegas, di mana ada uang maka di situ ada kerja, lengkap dengan batas
jam dan batas hak yang jelas. Profesionalisme menjadi benteng perlindungan agar hak dasar
mereka tidak dirampas secara gratis.
Sistem sosial yang sehat harus membangun lantai profesionalisme terlebih dahulu. Ukuran
pekerjaannya harus jelas, upahnya harus layak dan diberikan tepat waktu sebelum keringat
pekerja kering, serta aturan kerjanya harus menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Setelah
lantai profesionalisme yang adil itu terbangun kokoh, barulah atap khidmat bisa menaungi.
Seorang pekerja yang dihargai secara adil dan dimuliakan hak-haknya, secara sukarela akan
memberikan kerendahan hati, doa, dan ketulusan terbaik dalam setiap hasil karyanya.
Khidmat adalah puncak dari profesionalisme, bukan alasan untuk memberikan upah yang
murah.
Pada akhirnya, profesionalisme mengajarkan kita untuk tidak merugikan orang lain,
sedangkan khidmat mengajarkan kita untuk membahagiakan orang lain. Bagi siapa pun kita,
baik seorang pejabat, pengusaha, maupun pekerja di lapangan, profesionalisme adalah tangga
pertama yang wajib kita pijak. Kita harus ahli, jujur, dan tepat janji. Namun, jangan biarkan
jiwa kita berhenti di tangga itu hingga menjadi dingin dan kaku seperti mesin. Bekerjalah
dengan menyadarkan diri bahwa ada Mata Yang Maha Melihat di balik setiap paku yang
ditancapkan, setiap tugas yang diselesaikan, dan setiap rezeki yang dibawa pulang. Ketika
keahlian yang tinggi bertemu dengan ketulusan hati yang membumi, dan dinaungi oleh
sistem yang adil, maka tidak ada lagi perbudakan, melainkan kedamaian dalam setiap karya
yang kita hasilkan.




