SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Prestasi membanggakan di panggung internasional diraih oleh Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto (14), siswa SMP Negeri 1 Surabaya. Ia berhasil menyabet posisi First Place atau Juara 1 dalam ajang International Young Eco-Hero Award 2026 untuk kategori usia 8–14 tahun.
Dalam ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Action For Nature—organisasi nirlaba lingkungan berbasis di San Francisco, Amerika Serikat—Harley berhasil mengalahkan 476 pesaing dari 49 negara dan 25 negara bagian AS.
Pada edisi 2026 yang mencatatkan rekor peserta terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraannya sejak 2003 ini, hanya 16 anak dan remaja dari seluruh dunia yang terpilih sebagai penerima penghargaan, dan Harley menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang sukses mengamankan posisi puncak.
Keberhasilan Harley tak lepas dari aksi nyatanya menginisiasi gerakan Mangrove Warrior sejak pertengahan 2025. Tergerak oleh kerusakan kawasan pesisir Surabaya, ia turun langsung mempelajari pasang surut air laut, karakteristik tanah, hingga teknik pembibitan bersama para petani tambak Wonorejo.
Meski lokasi restorasi berjarak 13 kilometer dari kediamannya dan menuntut perjuangan ekstra—menerjang lumpur pekat, air setinggi dada, hingga risiko tertusuk akar tajam—Harley tak gentar. Hingga kini, gerakan tersebut telah membudidayakan dan menanam lebih dari 38.000 bibit mangrove.
Dengan dukungan SMPN 1 Surabaya, Wahana Visi Indonesia, dan Tunas Hijau, Harley membidik target penanaman 65.000 mangrove hingga akhir 2026, sebagai pijakan awal menuju misi jangka panjangnya menanam satu juta mangrove di Nusantara.
"Restorasi lingkungan yang nyata tidak pernah mudah, dibutuhkan kesabaran, keberanian dan kemauan untuk berdiri di air yang dalam dan lumpur yang tebal sambil terus bergerak maju," ujar Harley, Kamis (20/8/2026).
Harley membuktikan bahwa isu lingkungan tingkat dunia dapat diurai mulai dari langkah kecil di sekitarnya.
"Masalah global yang besar bisa terasa sangat berat. Tetapi ketika kita memulainya dari halaman rumah kita sendiri, kita bisa menunjukkan bahwa aksi lokal, ketika dilakukan oleh banyak orang, dapat menciptakan dampak global," katanya.
Bagi remaja ini, pemulihan ekosistem pesisir telah berlanjut menjadi bagian dari jalan hidupnya.
"Selama saya masih mampu menanam, saya akan terus menanam. Saya ingin melindungi Surabaya, Indonesia, dan planet kita untuk generasi mendatang serta seluruh makhluk hidup, sepanjang hidup saya," tutur Harley.
Integrasikan Konservasi dan Pemberdayaan Ekonomi
Gerakan Mangrove Warrior berkembang tidak sekadar aksi tanam pohon. Bersama mentornya, Lulut Sri Yuliani (aktivis penerima Kalpataru), Harley mengolah hasil mangrove menjadi ragam produk bernilai ekonomi, seperti briket arang, sampo, kondisioner, sirup, kecap, hingga batik.
Ia juga merancang Eco Geniuz Pillow, bantal berbahan daur ulang sampah plastik pesisir yang dilengkapi materi edukasi perubahan iklim berbasis pemindaian kode digital.

Aksi komprehensif ini mendapat pujian langsung dari Presiden Action For Nature, Beryl Kay. Ia menilai keunggulan Harley terletak pada keberaniannya mengambil tindakan nyata di lapangan.
"Harley tidak menunggu orang lain memperbaiki apa yang ia lihat terjadi di negara tempat tinggalnya. Ia mempelajari ilmunya, selalu melibatkan masyarakat lokal, dan bertahan untuk menyaksikan puluhan ribu mangrove mulai berakar," kata Beryl Kay.
Capaian ini resmi menyejajarkan Harley dalam jejaring penggerak lingkungan muda global, yang para alumninya banyak melangkah menjadi duta PBB hingga pemimpin inisiatif iklim internasional.




