Guruh Soekarnoputra di Mata PDIP Kediri: Sosok Jenius dan Marhaenis

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Kepergian Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar PDI Perjuangan. Di mata Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri, Dodi Purwanto, almarhum bukan sekadar putra bungsu Sang Proklamator Bung Karno dan Ibu Fatmawati, melainkan sosok maestro budaya yang memadukan keindahan seni dengan panggung politik nasional.

Dodi mengenang Guruh sebagai seniman yang konsisten menjadikan seni sebagai medium kecintaan terhadap Indonesia. Berbagai kelompok seni legendaris seperti Swara Maharddhika hingga kolaborasi Guruh Gipsy menjadi bukti kejeniusan almarhum dalam mengawinkan musik tradisional dengan ekspresi modern.

"Mas Guruh sosok jenius, suatu maestro budaya, di mana imajinasinya mampu merangkai seluruh karya ciptaannya yang diolah dengan jernih dalam pikiran sebagai cermin suara hatinya," ujar Dodi Purwanto saat dikonfirmasi, Sabtu (26/9/2026).

Menurut Dodi, dedikasi Guruh dalam meramu musik, koreografi, busana, hingga tata panggung menunjukkan komitmen penuh terhadap identitas kebudayaan Nusantara.

"Mas Guruh tidak hanya dapat dikenang sebagai seorang seniman yang menghasilkan karya, tetapi juga sebagai salah satu ikon dalam gerak kebudayaan," beber politikus yang juga menjabat Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri tersebut.

Jejak pengabdian Guruh berlanjut di kancah politik saat ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 1987, hingga dipercaya menjadi anggota DPR RI (1992–1997 dan 1999–2024). Salah satu karya paling monumental di PDI Perjuangan adalah komposisi musik Mars PDI Perjuangan ciptaannya.

Mantan Ketua DPRD Kabupaten Kediri periode 2019–2024 ini menilai bahwa dalam diri Guruh, seni dan politik tidak pernah berseberangan, melainkan saling melengkapi.

"Seni memberinya bahasa untuk mengekspresikan kecintaannya kepada Indonesia, sementara politik menjadi ruang untuk menjalankan pengabdian secara lebih langsung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tutur Dodi.

Dodi menambahkan, meskipun menyandang nama besar Bung Karno, Guruh berhasil mengukir identitasnya sendiri sebagai tokoh bangsa dan pejuang Marhaenis yang utuh.

"Mas Guruh adalah seorang seniman yang membawa kebudayaan ke dalam kehidupan politik, sekaligus seorang politisi yang tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia seni," tegas Dodi.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas wafatnya sang maestro, PDI Perjuangan mengibarkan bendera partai setengah tiang.

"Selamat jalan Mas Guruh Soekarnoputra," tutupnya.

Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB.