Dampak Kekeringan dan Asap, Warga Kalimantan Gangguan Nafas, Diare, Air Asin, Sembako Mahal

PONTIANAK, BANGSAONLINE.com-Hujan lebat mulai turun di kawasan Kalimantan. Otomatis kabut asap yang selama ini sangat mengganggu aktivitas warga Kalimantan mulai reda. Padahal gangguan asap selama ini sangat parah sampai negara-negara tetangga mengeluh.

“Jarak pandang 100 meter. Alhamdulillah, sejak tiga hari ini asap mulai berkurang. Tapi pasca asap yang menjadi masalah banyak orang sakit karena gangguan pernafasan dan diare. Saya sendiri satu minggu dirawat di rumah sakit,” ujar Dr H Tg Jasmin Haris, MPd, Ketua Pengurus Wilayah Jaringan Kiai-Santri Nasional ( PW JKSN) Kalimantan Barat kepada BANGSAONLINE.com, Selasa 29 September 2026 pagi ini.

“Air di sini asin semua. Air sumur, air ledeng, asin semua. PDAM sekarang bukan Perusahaan Daerah Air Minum tapi menjadi Perusahaan Daerah Air Asin. Ini saya masih di kamar mandi, airnya asin,” ujar Jasmin yang baru menyelesaikan S3 di Unversitas KH Abdul Chalim (UAC) Pacet Mojokerto Jawa Timur.

Seperti diberitakan, kekeringan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menimpa hampir seluruh provinsi di Pulau Kalimantan, terutama Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Menurut Jasmin, warga Kalimantan sekarang butuh bantuan sembako, obat-obatan dan air bersih.

“Kamarau tiga bulan, pasca asap warga butuh bantuan air bersih. Warga gagal panen, sekarang sayuran dan air bersih mahal,” ujar Jasmin Haris yang juga dosen UIN Kalimantan Barat.

Karena itu ia berhadap ada bantuan, terutama dari pemerintah pusat, agar warga Kalimantan yang sekarang menderita bisa terkurangi bebannya.

“Selama ini pemerintah, organisasi sosial, organisasi keagamaan dan lembaga-lembaga lain sudah berusaha membantu mengatasi kabut asap. Tapi pasca asap ini warga benar-benar butuh bantuan,” harapnya.