Polisi Ungkap Alur Kebocoran Soal UN SMP

SURABAYA (bangsaonline) – Belum selesai pengusutan bocornya kunci jawaban Ujian Nasional (UN) tingkat SMA, aparat kepolisian kembali mengendus dugaan bocornya naskah soal UN untuk tingkat SMP, yang akan digelar 5-8 Mei 2014 mendatang. Ditemukan pula bocoran kunci jawaban siap edar di kalangan siswa peserta UN SMP di Surabaya.

Bocornya naskah dan kunci jawaban UN SMP tersebut tercium aparat Polrestabes Surabaya beberapa waktu lalu. ”Petugas mendapat informasi, pengaduan dan beberapa kesaksian dari orangtua murid dan sejumlah pihak. Ada indikasi peredaran kunci jawaban untuk Ujian Nasional SMP,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta, usai meresmikan Masjid Al-Rahman Polsek Wonokromo Surabaya, Sabtu (26/4/2014).

Dia menjelaskan, peredaran kunci jawaban UN SMP yang bocor berhasil digagalkan karena keburu terendus anak buahnya. Modus peredarannya, lanjut Setija, sama dengan bocornya naskah soal dan kunci jawaban UN SMA beberapa waktu lalu. Yakni diedarkan melalui email dengan server tertentu. ”Pembayarannya dari siswa kepada pelaku dicicil sejak beberapa bulan sebelum Unas,” tandasnya.

Sejak awal, lanjut Kapolrestabes lulusan Akpol 1988 itu, pelaku menjanjikan bocoran kunci jawaban UN SMP kepada siswa kliennya. Sejumlah uang diminta jauh sebelum pelaksanaan UN. Namun, transaksi terhenti karena keburu diendus polisi. Ditanya soal pelakunya apakah sama dengan pembocor kunci jawaban UN SMA, Setija menjawab, ”Pelaku utama (pembocor UN SMA) saja belum tertangkap,” ujarnya.

Polisi, lanjut Setija, juga sudah melakukan langkah-langkah penghentian kemungkinan bocoran kunci jawaban UN SMP beredar. Yakni dengan mengunci atau memblokir email dan server-sever yang digunakan pelaku untuk menyebarkan bocoran naskah dan kunci jawaban UN SMP tersebut. ”Persoalan ini akan dibongkar semuanya,” katanya.

Sementara itu, untuk pengusutan kasus bocornya kunci jawaban UN SMA, Satreskrim Polrestabes Surabaya sudah memeriksa sekitar 18 saksi untuk dimintai keterangan. Setija mengungkapkan, penyidik sudah menemukan alur dan jalur permainan Joki lain dalam kasus ini. Temuan lainnya, ada beberapa server digunakan pelaku di luar server yang sudah diamankan penyidik. ”Artinya komplotan pembocor kunci jawaban Unas ini banyak,” ungkapnya.

Menurut mantan Kapolres Sidoarjo itu, pihaknya terus mendalami keterlibatan pihak lain, termasuk orang dalam dan alumni sekolah siswa yang menerima bocoran. Sebab, lanjut dia, transaksi bocoran kunci jawaban UN terjadi setiap tahun dan turun-temurun.

Pihaknya juga menunggu naskah soal dan kunci jawaban UN SMA yang diminta ke Kemendikbud. ”Untuk dicocokkan dengan kunci jawaban yang disita polisi,” ujarnya. ”Semoga dalam waktu dekat terungkap,” tambahnya.

Mendikbud M Nuh mengakui dirinya bukan hanya menemukan jawaban Ujian Nasional (UN) tingkat SMA yang bocor, namun dirinya pun sudah menemukan naskah soal UN SMA yang bocor di Bandung pada H-3 UN pada 16 April lalu.

Pengakuan ini disampaikan Nuh saat menghadiri pembukaan acara Workshop dan Festival Astrofotografi di JX International Surabaya, kemarin (26/4). “Ini yang bocor malah soalnya, bukan kunci jawabannya. Kalau disini (Surabaya) yang bocor kan kunci jawabannya. Saya sudah panggil puspendik untuk meneliti, ternyata naskah UN itu tidak ada dalam UN 2014. Tidak satupun dari 20 paket soal UN yang sama dengan bocoran soal yang beredar itu. Makanya, siswa jangan mau tertipu dan diiming-iming. UN itu bisa menjadi ujian kejujuran siswa, karena ujian kejujuran itu justru saat kepepet (terjepit)," kata Nuh.

Menurut dia, kejujuran dalam kondisi tidak kepepet itu wajar, tapi kejujuran itu akan bagus bila dalam kondisi kepepet masih mampu bersikap jujur. "Kalau tidak jujur dalam kondisi kepepet, maka dia belum teruji,” tandasnya.

Dikatakan dia, ujian itu ibarat orang yang melompat galah, tentu tidak semua orang bisa. Kalau bisa berarti sempurna atau nilainya 100, tapi kalau belum bisa tentu hal itu juga realistis. “Itulah tantangan dalam ujian, karena dengan kesulitan akan membuat orang berusaha. Kalau tanpa tantangan, maka hidup ini menjadi tidak baik," tandasnya. Namun, sulit atau tidaknya sebuah soal itu tidak harus menjadi keluhan, karena soal itu sah adanya bila ada dalam kisi-kisi.

Disinggung mengenai salah satu soal UN SMA yang menyingung-nyinggung nama Jokowi, Nuh malah balik bertanya kepada wartawan. “Anda tahu kapan soal UN SMA itu dibuat? Soalnya dibuat Juli 2013. Jadi pada saat itu Jokowi belum dicapreskan. Lalu kami dinilai tak sensitif terhadap situasi politik dengan adanya soal itu. Lalu, bagaimana jika pada soal itu ada nama-nama lain yang ternyata sekarang ini dicapreskan, apakah reaksinya sama? Kami telah menanyakan hal ini kepada tim bagaimana soal itu dibuat,” pungkasnya.