Salah satu cuplikan video klip "Another Brick In The Wall" oleh Pink Floyd. foto: ilustrasi
Selaras dengan Kartini, Butet Manurung, seorang aktivis lingkungan juga membagi ilmunya kepada anak-anak rimba di Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Kisah itu terangkum manis dan getir dalam bukunya Sokola Rimba. Bahkan sebuah band rock asal Inggris, Pink Floyd, dalam lagunya yang berjudul Another Brick In The Wall, menyamakan konsep pendidikan di sekolah seperti sebuah pabrik roti. Dalam video klip yang berdurasi 6 menit tersebut, tampak murid-murid berseragam sekolah mengenakan topeng berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong, kemudin jatuh satu persatu dalam mesin penggiling dan keluar menjelma roti yang bentuknya sama.
Meminjam kutipan dari Walter Bonatti yang berbunyi, Aku percaya bahwa gunung dengan segala keindahannya serta hukum-hukumnya merupakan sekolah terbaik bagi manusia. Ya, ilmu tidak hanya menetap dalam sebuah ruangan yang disebut sekolah atau lembaga pendidikan lain. Mereka tersebar, beterbangan, dan hinggap dari mana saja. Bahkan sebuah tong kosong nyaring bunyinya juga mengandung ilmu: bahwa orang yang banyak bicara biasanya bodoh.
Ilmu tidak hanya bersumber dari guru, dosen, atau staf pengajar berseragam formal. Tukang tambal ban, pengasong koran pinggir jalan, satu butir telur dalam meja makan, atau kuli panggul Pasar Keputran juga berilmu. Mereka (ilmu) tidak memilih subjeknya. Ilmu berkubang di mana-mana sesuai kapasitas dan kemampuannya masing-masing lalu masuk dan meresap bagi mereka yang menengadahkan gelasnya ke atas.
Sebelum mengakhiri opini, mari kita ucapkan belasungkawa atas meninggalnya Siti Rahmani Rauf, perempuan asal Sumatera Barat yang memperkenalkan metode baca 'Ini Budi'. Beliau meninggal pada usia 97 tahun akibat diabetes.
Selamat jalan 'Ibu Budi', semoga tenang di sisi Yang Maha Kuasa.
Oleh: Aulia Rachman, Mahasiswa aktif di UIN Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Ushuluddin
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




