SURABAYA (bangsaonline) - Sapi berasal dari Jatim, tidak sedikit yang dikirim ke luar Jatim. Ini adalah upaya untuk memainkan harga daging.
Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jatim Muthowif mengatakan, salah satu cara untuk memainkan harga daging sapi itu, dengan menjual banyak sapi hidup ke luar Jatim.“Di antaranya ke Jawa Barat dan Tangerang,” beber Muthowif, Minggu (26/4/2014).
Jumlah sapi yang dikirimkan juga cukup banyak. Dalam satu hari, setidaknya terdapat 60 hingga 70 ekor sapi. “Itu dari pasar tradisional, dan bukan dari penggemukan,” ungkap Muthowif.
Menurut Muthowif, praktik semacam itu sudah dilakukan oleh para pedagang dari DKI Jakarta secara illegal dalam 2 minggu terakhir. Muthowif menganggap illegal, sebab dalam peraturan yang terdapat dalam Surat Keputusan Dinas Peternakan (Disnak) Jatim, seharusnya sapi-sapi tidak boleh keluar begitu saja dari Jatim. “Salah satu syaratnya adalah tidak boleh yang berukuran di bawah 400 kilogram, sedangkan yang dikirim itu semuanya dibawah 400 kilogram,” paparnya.
Oleh karena itu, Muthowif menduga jika Disnak Jatim sengaja menutup mata terkait kasus itu. Sebab, untuk dapat mengirimkan sapi keluar dari Jatim terlebih dalam jumlah besar, maka harus ada surat rekomendasi dari pihak Disnak Jatim. “Kalau memang ada rekomendasi berarti Disnak Jatim jelas terima setoran, kalau tidak ada suratnya, kenapa tidak ditindak?” tukasnya.
Muthowif menduga, hal itu sengaja dilakukan dalam rangka mempermainkan harga daging sapi di Jatim jelang bulan Ramadhan, dan Hari Raya Idul Fitri. “Mereka bisa membuat harga daging sapi di Jatim melambung tinggi, dan kalau diteruskan akan membuat masyarakat panik,”tudingnya.
Terkait fakta itu, PPSDS akan melaporkan hal itu ke Komisi B DPRD Jatim. Pasalnya, pihak Dinas Peternakan (Disnak) Jatim dianggap tutup mata dengan fakta tersebut. Muthowif mengaku akan melayangkan surat untuk hearing dengan anggota Komisi B DPRD Jatim. dalam kesempatan itu pihaknya akan membawa para pedagang dan jagal sapi yang selama ini beraktifitas di Surabaya dan Sidoarjo, karena mereka lah yang tahu persis apa yang terjadi selama ini.
"Kami akan beberkan fakta-fakta di lapangan secara lengkap kepada anggota Dewan, agar mereka tahu fakta yang sesungguhnya. Tidak mendapat laporan asal bapak senang (ABS) dari pihak Disnak,"tandas jagal bergelar sarjana hukum tersebut.
Sayangnya, hingga berita ini ditulis, Kepala Disnak (Kadisnak) Jatim Maskur belum memberikan konfirmasi apapun. Berulang kali wartawan koran ini berusaha menghubungi telepon genggam miliknya, namun hanya terdengar nada sedang tidak aktif.




