SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sebanyak 18 peneliti dari beberapa negara bertemu di Surabaya untuk berdiskusi mengenai kegiatan riset bersama dalam konferensi internasional, Physics and Mechanics of New Materials and Their Applications (Phenma), yang diselenggarakan oleh Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Kehadiran peneliti asing di Surabaya, bermanfaat bagi perkembangan riset di Indonesia pada umumnya. "Simposium ini bukan hanya soal seminar, melainkan juga bisa berlanjut kerjasama publikasi, pertukaran pelajar, hingga beasiswa pendidikan antarnegara," kata Conference Chairs Phenma 2016, Muaffaq Achmad Jani, di Hotel Elmi, Selasa (19/7).
Dekan Fakultas Teknik (FT) Untag Surabaya itu menerangkan, kendala utama di Indonesia untuk kerjasama penelitian lintas negara adalah prosedur perijinan yang berbelit. Selain itu, dukungan pemerintah Indonesia terhadap periset dalam negeri belum memadai.
“Dengan simposium ini, kalaupun hasil riset peneliti Indonesia tidak laku di negara sendiri, bisa terekspose ke negara lain,” jelasnya. Berbeda jauh dengan pemerintah Rusia atau Taiwan yang mendukung penuh perkembangan riset, baik ijin prosedur maupun pendanaan.
Menurut Prof. Ivan A. Parinov, peneliti asing yang mengikuti Phenma, Indonesia diakui kaya potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, seperti potensi alam, sumber daya manusia (SDM) yang bisa dikembangkan. Namun perlu banyak kerjasama dan aplikasi-aplikasi hasil penelitian.
Senada dengan Ivan, peneliti dari National Kaohsiung Marine University-Taiwan, Prof Chitsan Lin John juga mengakui besarnya potensi Indonesia dalam berbagai bidang. “Sumber daya alamnya luar biasa besar, kaya budaya, agama, dan lain sebagainya. Indonesia tinggal memanajemennya dengan baik,” ungkap Prof Chitsan.




