SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Secretary General of Habitat III, Joan Clos menyampaikan kebanggaannya terhadap Kota Surabaya yang disebutnya sangat sukses dalam menggelar agenda The Third Session Preparatory Committe (Prepcom) 3 Habitat III. Menurutnya, parameter sukses Surabaya sebagai tuan rumah, selain diukur dari banyaknya delegasi yang datang, juga dari sambutan hangat yang diperlihatkan warga Kota Surabaya.
Joan Clos mengatakan, Senin (25/7), ada lebih dari 3500 partisipan dan delegasi yang hadir dalam konferensi The Third Session Preparatory Committe for UN Habitat III (PrepCom3). Bahkan, dia meyakini, jumlah itu masih akan terus bertambah karena masih banyak delegasi yang belum masuk. Dari jumlah itu, ada 1.886 anggota PBB yang hadir.
Namun, yang paling membanggakan bagi pria berkebangsaan Spanyol ini adalah sambutan yang ditunjukkan warga Surabaya. Menurutnya, sambutan kepada para delegasi, baik itu di jalan-jalan, di hotel, termasuk juga sambutan dari Pemerintah Kota Surabaya (Pemkot) Surabaya, sangat luar biasa.
"Ini sangat luar biasa. Acara ini sangat sukses. Kami sangat senang berada di Surabaya. Saya sangat berterimakasih karena warga Surabaya sangat ramah. Juga relawan, pelajar dan pelayanan di hotel juga ramah. Akan ada banyak kata-kata indah yang kami sampaikan tentang bagaimana Surabaya telah menyambut kami dengan baik,” ujar ketika jumpa pers di ruang press centre, Grand City Convention and Exhibition Centre, Surabaya, Senin (25/7) siang.
Sementara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono yang juga menjadi narasumber dalam agenda jumpa pers tersebut, memberikan pujian kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang dinilainya berhasil dalam menata kawasan Kenjeran menjadi lebih cantik dan berdaya secara ekonomi.
Menteri kelahiran Surakarta ini mengatakan, langkah Pemkot Surabaya dalam menata kawasan Kenjeran tersebut, bisa menjadi contoh bagus bagi negara-negara di dunia dan juga pemerintah daerah. Bahwa, penataan sebuah kawasan haruslah terencana dan mengedepankan perbaikan.
“Penataan kawasan Kenjeran ini menjadi contoh bagus. Ini warganya tidak dipindah, tetapi tempatnya yang diperbaiki. Sanitasi nya diperbaiki. Juga kawasan ekonominya dibangun. Seperti ada tempat kuliner bagus dan juga Jembatan Suroboyo dengan air mancur menari nya,” tegas Menteri Basuki.
Menteri PUPR memang diajak Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini untuk melihat langsung “wajah baru” Kenjeran pada Minggu (24/7) malam. Selain menyaksikan eksotisme air mancur warna warni menari di Jembatan Suroboyo, menteri pemegang gelar S3 Teknik Sipil Colorado State University, Amerika Serikat ini juga diajak menikmati ikan bakar di Sentra Ikan Bulak (SIB).
Disampaikan Menteri Basuki, di kawasan Kenjeran tersebut, seandainya yang dibangun adalah jalan tol (bukan Jembatan), maka penduduk di sana bakal dipindah dari tempat tinggalnya. “Tetapi Bu Risma punya rencana lebih baik. Ini menjadi contoh penataan kawasan yang terencana,” sambungnya.
Menurut menteri kelahiran 5 November 1954 ini, beberapa tahun lalu, bila diprosentase, ada 20 persen saja pembangunan yang tidak direncanakan. Selebihnya pembangunan yang dilaksanakan. Sementara di tahun ini, prosentase pembangunan yang tidak direncakanan itu jadi 50 persen. Ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mengatur pembangunan lebih awal inilah yang disebutnya menjadikan masalah urbanisasi di perkotaan menjadi lebih buruk.(yul/hms/ns)




