Seabad Berdiri, Masjid Agung Al-Fattah Mojokerto Baru Memiliki Nama


Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto. Masjid Agung Al-Fattah baru memiliki nama setelah berusia 100 tahun. Semula masjid bernama Masjid Jamik Al-Fattah.

Mungkin sedikit orang yang tahu jika Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua di "Kota Onde-onde" tersebut. Masjid yang terletak persis di depan Alun-alun kota Mojokerto ini dibangun pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah.

Yang unik, empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter yang sampai sekarang masih kokoh berdiri ini didapatkan dari hutan Jabung. Soko guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Nama Masjid ini tentu sudah tidak asing lagi bagi warga Kota Mojokerto. Karena letaknya yang cukup strategis berhadapan dengan Alun-Alun Kota Mojokerto.

Sejarah berdirinya Masjid Agung dapat dilihat dari kutipan surat almarhum Mohammad Thohar. Almarhum adalah seorang panitera Pengadilan Negeri (PN) setempat, yang jugaPengurus Kas Masjid (PKM). Menurutnya, sebagaimana Masjid Jamik di Desa Gemekan Kecamatan Sooko, Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro berserta bawahannya yang meliputi asisten wedono, camat-camat dan lainnya.

Konon, pembangunan masjid ini tidak terlalu lama. Hanya satu tahun. Kali pertama dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1795 H. Pada 1 Mei 1932, masjid ini mengalami renovasi untuk kali pertama oleh Pendiri Comite Lit atau panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan oleh M.Ng Reksoamiprojo, bupati IV - V pada 7 Oktober 1934.

Berikutnya, pada 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas lagi oleh R Sudibyo, wali Kota Mojokerto dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Perluasan ini dilakukan karena masjid sudah tidak bisa menampung jumlah jamaah yang meluber.

Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati RA Basuni juga melakukan perluasan.

Peresmian juga dilakukan pada tahun yang sama dibarengkan dengan peringatan 17 Agustus 1989. Setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini tidak memiliki nama. KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jamik Al Fattah.

Selanjutnya, pada 4 April 1986 ini, masjid Jamik Al Fattah dipugar oleh Walikota Mojokerto Moh Samiuddin sebagai pembangunan tahap I. Kemudian dilanjutkan dengan pemugaran tahap II yakni di lokasi sebelah timur atau depan masjid. Selanjutnya, pada masa pemerintahan wali kota ini pulalah istilah Masjid Jamik diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.

Kegiatan keagamaan selalu ramai terutama selama Ramadan. Pada sore hari banyak warga yang menyempatkan bersantai ditempat ini setelah sholat sembari menunggu waktu berbuka. Pada setiap Rabu, ada pengajian di tempat ini. Salah satu khotibnya adalah KH Masud Yunus yang sekarang menjadi walikota Mojokerto. "Saya sering memberi tauziyah saat pengajian Rebu,'' tutur Yai Ud, panggilan Masud Yunus.

Orang nomer satu di Pemkot ini mempunyai jamaah pengajian yang dinamakan Al Umahaj. Hampir 10 ribu jamaah aktif mendengarkan kotbah dari Yai Ud. Mereka tidak hanya berasal dari Kota setempat, namun ada yang datang dari Kabupaten Mojokerto, Sidoarjo dan Jombang.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: