Mendengar alasan tersebut, Isa ibn Maryam A.S. menyetujui dan jadilah hari Ahad sebagai hari raya keagamaan bagi umat kristiani, yang kemudian berubah nama menjadi hari Minggu, ikut bahasanya wong Portugis yang pernah menjajah di negeri ini.
Belakangan, dunia lebih menyikapi hari Minggu sebagai hari rekreasi, hari mengumbar nafsu ketimbang hari konsentrasi beribadah. Apalagi di kalangan kaum muda. Terma "ayo malam mingguan" konotasinya lebih kepada hura-hura dan maksiat, tidak mungkin bermakna ajakan i'tikaf di dalam gereja.
Tidak salah nabi Isa A.S. yang dulu menyetujui Ahad sebagai hari raya agama, tapi pembelotan ada pada perjalananya, utamanya di Eropa. Gejolak moderenisasi dan gaya hidup makin menuntut kepuasan nafsu, maka hari Minggu atau Sunday dijadikan hari mengumbar nafsu. Sebuah gerakan komunitas hedonik yang sengaja dan terang-terangan melawan hari sakral yang diyakini oleh para pemuka gereja.
Dengan demikian, pada hari Minggu, umat kristiani dihadapkan pada dua pilihan : antara malam mingguan, ke puncak, weekend, bersenang-senang atau ibadah ke gereja. Yang kami saksikan, mereka yang sudah tua-tua, para pendeta, sebagian memilih beribadah di gereja. Sedangkan yang masih muda-muda, apalagi yang ekskutif and macho, rupanya lebih banyak yang bersenang-senang.
Meskipun mereka melanggar hari Mingguan, tapi tidak dikutuk menjadi monyet kayak Yahudinya nabi Musa dulu. Hal itu, karena pelanggarannya terjadi setelah era nabi Muhammad SAW, di mana manusia sekarang, sedurhaka apapun tidak diazab langsung, melainkan dirahmati lebih dulu.
Itulah jasa terbesar beliau untuk dunia, itulah universalitas rahmat diutusnya nabi akhir zaman ini, sehingga pantas berjuluk "nabiyyur rahmah". Tebar kasihnya nondiskriminatif, lintas agama maupun etnis.
Datanglah era nabi Muhammad SAW yang kemudian memilih hari Jum'ah sebagai hari raya keagamaan dalam satu minggu. Nabinya yang menentukan, umatnya langsung patuh tanpa pengecualian. Jum'ah dinobatkan sayyid al-ayyam yang kaya fadlihah dan keistimewaan.
Gampangnya, penduduk dunia ini seputar tujuh miliar. Yang beragama islam sekitar 1.4 milyar. Kiranya bisa diskor dalam skala internasional. Mana yang terbanyak antara umat islam yang beribadah di hari juma'ah, alias jum'ahan dibanding umat kristiani yang beribadah di gereja?. Lebih jujur lagi, bila skoringnya pakai persentase, bukan pakai totalitas jumlah.
Paparan ini untuk dijadikan bahan perenungan bagi para pemeluk agama, agama apapun. Siapa tahu Allah membukakan pintu hidayah, lalu mereka menerima islam sebagai agama. Makanya, jangan ada lagi yang mencerca Ahok.
Ahok sudah menemukan jawabannya. Dalam bulan suci Ramadhan ini, Ahok sedang dalam ruang perenungan yang hening. Ahok sedang berdialog dengan diri sendiri, dengan nuraninya sendiri, sehingga tidak ada kesulitan jika Tuhan Allah SWT hadir mendekapnya dalam kehangatan kasih dan sapaan sayang, lalu cahaya ilahi memancar menembus kalbunya, maka menjadilah dia seorang muslim yang sungguhan, setelah semasa kampanye dinobatkan oleh sebagian pengagumnya sebagai anak Tuhan yang sedang jahati para Iblis.
Kurang apa Umar ibn al-Khattab, pembenci Nabi papan atas. Bahkan tinggal selangkah saja mau membunuh Nabi. Toh pada akhirnya justru menjadi pengganti Nabi, pengemban amanat khilafah setelah Abu Bakr al-shiddiq yang kemudian menjadi orang pertama berjuluk Amir al-Mukminin. Hadana Allah wa iyyakum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




