Cek Garam Impor, Petani Garam Madura Geruduk Pelabuhan Tanjung Perak

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Puluhan petani garam asal pulau Madura mendatangi pelabuhan Tanjung Perak. Kedatangan mereka ingin mengecek langsung keberadaan garam impor yang tiba di dermaga Jamrud, karena khawatir bocor di pasaran. Dengan didampingi anggota Komisi B DPRD Jatim, para petani menyaksikan bongkar muat garam impor dan memang garam untuk industri.

"Sejak kabar impor garam sampai ke masyarakat, sekarang harga garam turun menjadi Rp 2 ribu per kilogram. Padahal seminggu lalu masih Rp 2700 per kilonya, " kata Ubaidillah, ketua Aliansi Masyarakat Garam (AMG) Sumenep, Rabu (31/1).

Aktivis yang akrab disapa Ubed itu mengatakan petani garam di Madura tidak melarang garam impor asalkan sesuai dengan ketentuan. Pasalnya, jika impor itu dilakukan melebihi kuota bisa menyebabkan harga garam lokal anjlok.

"Kita tidak anti terhadap garam impor asalkan sesuai dengan kebutuhan dan tidak tercecer ke pasaran," ujar Ubed.

Para petani juga menuding, pemerintah pusat tidak transparan dalam menyampaikan kuota impor garam. Karena selama ini, kuota garam impor cenderung meningkat setiap tahunnya.

"Kami sudah menanyakan kepada pemerintah seperti Kementerian Perindustrian, Perdagangan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tetapi tidak ada pemberitahuan yang jelas," katanya lagi.

Ubed mengaku khawatir garam impor yang datang untuk sektor industri bocor ke masyarakat. Karena itu, dia meminta agar pemerintah membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk mengatasi masalah itu.

"Harus ada tindakan tegas dari pemerintah dengan membentuk Satgas Pangan. Kalau ada perembesan kebutuhan industri dan untuk konsumsi maka harus dilakukan tindakan tegas," tandas pria asli Sumenep ini.

Dari pantauan BANGSAONLINE.com, puluhan petani terlihat masuk ke dalam dermaga untuk mengecek kapal barang yang bersandar. Kapal tersebut terlihat akan menurunkan garamnya ke truk yang sudah diparkir berjejer di sebelah kapal.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Achmad Firdaus Fibrianto mengakui bahwa ada kapal garam impor yang bersandar di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. "Kita sudah melihat fisik garamnya, memang termasuk garam impor," kata politikus Gerindra tersebut.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jatim lainnya, Agus Maimun berharap agar impor garam yang masuk Jawa Timur tidak merusak harga garam lokal. Karena itu, dalam waktu dekat, pihaknya akan memanggil instansi yang berwenang agar masalah tersebut bisa segera dicari solusinya.

"Sebenarnya kita tidak menolak garam impor asalkan peruntukannya jelas. Kalau garam impor itu merugikan rakyat, maka ini yang tidak dikehendaki. Saat ini stok garam lokal per tahun mencapai 1,1 juta ton di Jatim. Sedangkan, kebutuhan garam industri di Jatim mencapai 500 ribu ton per tahun.

"Karena itu kita mempertanyakan untuk apa impor garam sebanyak 2,7 ton per tahun. Untuk apa," imbuh Ketua Fraksi PAN itu. (mdr/rev)