Kalau lagi mabuk di udara, gimana? foto: guardian
Survei lain menemukan bahwa delapan dari 25 maskapai penerbangan Jepang tidak mengharuskan pilot melakukan tes breathalyser sebelum terbang. Sementara selusin maskapai lainnya menggunakan perangkat sederhana yang dilaporkan kurang sensitif.
Undang-undang penerbangan Jepang melarang pilot minum miras hingga delapan jam sebelum bertugas. Tetapi tidak menetapkan batas untuk tingkat alkohol atau mengharuskan pilot untuk mengambil tes breathalyser. Sebaliknya, langkah-langkah tersebut diserahkan kepada masing-masing maskapai penerbangan.
Penangkapan Jitsukawa, dan bukti bahwa masalah ini lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya, dapat mendorong kementerian transportasi untuk menerapkan pengujian wajib dan batas alkohol sejalan dengan yang berlaku di Eropa dan AS.
Pada hari Rabu, maskapai penerbangan bertarif rendah Jepang, Skymark, mengatakan penerbangan domestik pagi itu tertunda setelah alkohol terdeteksi pada napas pilot pesawat.
JAL dan All Nippon Airways diharapkan mengumumkan langkah-langkah untuk mencegah minum berlebihan di kalangan pilot dan kru lainnya. Issei Hideshima, mantan komandan penerbangan dan komentator industri penerbangan JAL, mengatakan meningkatnya frekuensi penerbangan di Jepang berarti pilot memiliki waktu lebih sedikit untuk beristirahat.
"Stres mungkin mendorong mereka untuk minum banyak," katanya kepada kantor berita Kyodo. “Memaksakan peraturan yang lebih ketat tidak cukup. Pilot perlu diberi cukup waktu antara penerbangan untuk beristirahat dan memulihkan diri."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




