SIDOARJO (BangsaOnline) โ Pasca jatuhnya pesawat latih Merpati yang mengakibatkan pilot siswa, Haris Yondi Adzakarahman (21), meninggal dunia, pihak Merpati Pilot School meliburkan praktik penerbangan selama dua bulan.
Upaya itu sambil menunggu proses penyelidikan yang tengah dilakukan oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). โUntuk sementara, kami akan meliburkan jadwal praktik penerbangan,โ tandas Kepala Merpati Pilot School Kapten Novi Isnu Rianto, usai pemakaman Haris, di pemakaman umum di Desa Bungurasih Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (20/9) pagi.
Terkait praktik penerbangan yang tanpa didampingi instruktur atau pelatih, Kapten Novi menjelaskan, hal itu sudah sesuai prosedur dan kurikulum pendidikan. Sebab, menurutnya, setiap siswa penerbang wajib menyelesaikan penerbangan selama 50 jam.
Penerbangan tersebut
terbagi menjadi solo (sendirian) fly sebanyak 20 jam, serta penerbangan dipandu
instruktur sebanyak 30 jam. "Itu salah satu materi penerbangan memang solo
(sendiri), saat itu sedang menjalani wajib terbang solo fly 20 jam bagi setiap
siswa dalam materi pelajaran," bebernya.
Dia menambahkan, Pesawat yang dipiloti Haris sebenarnya sudah sering digunakan
oleh siswa-siswa lain "pesawat terbang itu dipakai bergantian setiap jam,
pesawat itu lancar saat digunakan oleh teman-teman Haris. Namun, saat di
gunakan almarhum pesawat tersebut mengalami musibah," ungkapnya sambil
meneteskan air mata.
Untuk peswat latih, ujar dia, MPS memiliki empat pesawat latih jenis Cessna PK-MSN
buatan 1980-an. "Dua di antara pesawat latih itu sedang dipakai pendidikan
serupa di Jakarta,
sehingga hanya dua unit yang ada di Merpati Pilot School Sumenep,"
imbuhnya.
Walau sudah tergolong uzur, menurutnya, kondisi peswat yang digunakan Haris
dinilai masih layak terbang. "Kondisi pesawat yang di kemudikan almarhum
masih layak terbang. Sehingga, sebelum melakukan penerbangan semuanya sudah
dilakukan pengecekan," pungkasnya.




