"Bahkan mereka juga tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungannya. Jangan kan kepada kampung atau wilayah di mana seorang pelajar tinggalnya, kepada tetangga sebelahnya pun ada yang tidak kenal dan tidak peduli," papar pemuda kelahiran 1999 silam ini.
Menurut mahasiswa STIH Lumajang ini, pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, muncul kecenderungan sebagian pelajar berinteraksi melalui medsos, termasuk belajar agama melalui medsos yang tak jelas siapa gurunya. Tak jarang, dari sanalah, kemudian muncul para pelajar yang terseret kepada paham radikalis dan fundamentalisme.
"Ini tentu tak dikehendaki oleh para orang tua. Oleh karena itu, organisasi IPNU-IPPNU mengajak para pelajar bergabung. Para orang tua juga harus peduli dalam hal ini. Jangan biarkan anak hanya sibuk dengan kegiatannya di sekolah," pinta pemuda yang hobi membaca dan hiking ini.
Para orang tua, ulas Mukhlason lebih lanjut, jangan menghalangi anak-anaknya untuk belajar berorganisasi di luar sekolah. Sebab, dengan belajar menempa diri dengan anak-anak seusianya di organisasi ekstra sekolah, mereka akan diarahkan pada kegiatan-kegiatan positif seperti pelatihan kepemimpinan, dan lain-lain.










