BangsaOnline.com - Aksi Menteri kelautan dan Perikanan
Susi Pudjiastuti dalam kebijakan penenggelaman kapal asing yang masuk
tanpa izin ke perairan Indonesia menuai pujian. Bahkan, Wakil Ketua
Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Ahmad Hanafi Rais menyarankan
agar Susi melaporkan penenggelaman itu ke forum dunia.
Susi,
kata Hanafi, harus membuka nama negara, perusahaan, dan para pencuri
ikan tersebut. "Susi harus bicara ke forum ASEAN atau FAO (Food and
Agriculture Organization) agar tindak penenggelaman kapal itu
mendapatkan legitimasi internasional," katanya kepada Tempo,Ahad, 21
Desember 2014.
Pujian
pun datang dari publik. Menurut Lembaga survei Cyrus Network, Ahad, 21
Desember 2014, hasil sigi dua bulan pemerintahan Presiden Joko Widodo
menyebutkan Menteri Susi meraih perhatian tertinggi karena kinerja yang
menjanjikan di antara 34 menteri. Susi merebut hampir 30 persen suara
dari 1.220 responden yang disurvei.
Di
balik pujian itu, ternyata tak semua rencana aksi Menteri Susi bisa
berjalan mulus. Berikut ini sejumlah aksi Menteri Susi yang gagal dan
cenderung berantakan.
1. Ide Keluar dari G-20
Belum
segenap menjabat menteri, Susi sudah melontarkan ide kontroversial. Ia
mengusulkan Indonesia keluar dari kelompok negara perekonomian terbesar
atau G-20. Susi tak main-main dengan usulan ini. Susi mengaku telah
menyurati Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto dan Presiden Jokowi
mengenai usulan itu.
Susi mengatakan Indonesia
seharusnya keluar dari organisasi G20 karena Indonesia selalu menuai
kerugian, terutama di sektor perikanan. Menurut Susi, impor hasil
perikanan dan kelautan Indonesia dibebani tarif 14 persen. "Gara-gara
G20 kita tidak mendapat fasilitas 0 persen," kata Susi, Rabu 12 Nobember
2014.
Susi mencontohkan, ekspor ikan tuna
Indonesia mencapai US$700 juta. Karena dikenai tarif impor, Indonesia
kehilangan pendapatan US$105 juta. Begitu juga dengan komoditas udang.
Indonesia kehilangan US$150 juta dari total ekspor US$ 1,5 miliar.
Dua
hari berselang, ide Susi langsung dimentahkan Jokowi. Ia menilai G-20
bukan organisasi yang mengikat. Karena itu, masalah tarif atau bea masuk
yang sering menyulitkan Indonesia dinilai sama sekali tidak dipengaruhi
oleh keanggotaan Indonesia dalam G-20. "Saya ikut juga belum, mau
disuruh keluar," katanya.
2. Janji 15 Desember
Dengan
bantuan TNI AL, Menteri Susi menenggelamkan kapal asing yang masuk
secara ilegal ke perairan Indonesia. Pada 5 Desember 2014, Susi
menenggelamkan tiga kapal Vietnam di Kepulauan Natuna, Riau. Kapal-kapal
kosong itu dimuati bahan peledak lebih dahulu, dan dua kapal AL
menembaknya kemudian dari kejauhan.
Menteri Susi
berjanji akan menenggelamkan kapal-kapal lainnya. Bahkan, dia
menargetkan penenggelaman selanjutnya bakal terjadi di perairan dekat
Pontianak dan Laut Aru. "Mungkin Tanggal 14-15 Desember 2014.
Perinciannya belum jelas kapal mana saja, mungkin lebih dari tiga kapal.
Supaya mereka jera," ucapnya.
Namun, hingga pada
hari-hari yang dijanjikan itu, yakni Senin, 15 Desember 2014, tidak ada
kabar ataupun informasi soal penenggelaman kapal seperti janji Menteri
Susi.
3. Gagap dengan Kapal Cina
Menteri
Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan pihaknya berhasil
menangkap 22 kapal asing milik Cina di Laut Arafura, Papua pada 7
Desember 2014 pukul 15.00 Waktu Indonesia Timur. Keberadaan kapal itu
teridentifikasi melalui perangkat sistem identifikasi otomatis atau
Automatic Identification System milik Kementerian Kelautan.
Menurut
Susi, seluruh kapal milik Cina yang berbobot mati di atas 300 ton itu
tertangkap basah saat mencuri ikan di Laut Arafura. Bukannya bersikap
tegas seperti terhadap kapal-kapal ikan milik Vietnam, Susi memilih
bernegosiasi dengan pemerintah Cina dengan memberi nota resmi membahas
aksi kapal milik negara itu yang nota bene tertangkap basah mencuri ikan
di Laut Indonesia.
"Kita
ingin bahas ini dari hati ke hati dengan Duta Besar Cina untuk mencapai
komitmen bersama terkait praktik illegal fishing, soalnya praktik ini
tidak ramah lingkungan," kata Susi di kanotrnya, Senin, 8 Desember
2014.
Sikap Menteri Susi
yang ragu-ragu terhadap kapal Cina mendapat sindiran dari Wakil Ketua
Komisi Pertahanan DPR Ahmad Hanafi Rais. Hanafi menilai Menteri Kelautan
dan Perikanan itu masih tebang pilih dalam menindak kapal asing. "Susi
sudah gagah dengan menenggelamkan kapal Vietnam tapi gagap ketika
berhadapan dengan Cina dan Jepang," ujar Hanafi, Ahad, 21 Desember 2014.
4. Terdeteksi, tapi Tak Tertangkap
Menteri
Susi meminta Presiden Jokowi mendeteksi 13 kapal ikan ilegal asal Cina
dan Taiwan yang terdeteksi oleh satelit Automatic Identification System
(AIS) di perairan Indonesia pada Kamis, 18 Desember 2014. "Kami minta
kepada Pak Jokowi untuk memerintahkan Panglima TNI dan Kepala Staf
Angkatan Laut untuk menangkap kapal tersebut," kata Susi di kantornya,
Kamis, 18 Desember 2014.
Kapal itu diperkirakan
berbobot mati di atas 300 ton. Sebab, kata Susi, satelit AIS tidak bisa
menangkap sinyal di bawah bobot tersebut. Ada empat kapal berbendera
Taiwan yang terlacak, antara lain Goang Shing Lih NO 6 dan Shin Jyi
Chyuu NO 36. Sedangkan, untuk kapal Cina yang terdeteksi di antaranya
Zhen Yuan Yu 805, Zhen Yuan Yu 817, dan Zhen Yuan Yu 808.
Permintaan
Susi untuk menangkap kapal-kapal tersebut tidak direspons oleh TNI AL.
Pernyataan Susi ini dibantah Kepala Divisi Penerangan TNI AL, Laksamana
Pertama Manahan Simorangkir. Ia menyatakan pihaknya tidak bergerak
menangkap 13 kapal asing yang terdeteksi Kementerian Kelautan karena
Menteri Susi Pudjiastuti belum meminta institusinya untuk melakukan
penangkapan.
"Saya baru tahu ada 13 kapal asing
yang ditemukan Kementerian kelautan. Bu Susi belum menyampaikan baik
lisan maupun tulisan," ujar Manahan saat dihubungi Tempo, Jumat malam,
19 Desember 2014. Seharusnya, kata dia, Susi tidak hanya mengatakan di
media massa terkait dengan temuannya tersebut.




