BangsaOnline-Di dunia maya sedang ramai membahas polemik foto Pahlawan Nasional asal
Aceh, Cut Nyak Dhien. Ada beberapa pihak yang mengatakan kalau foto Cut
Nyak Dhien yang memakai konde merupakan konspirasi penjajah. Menurut
mereka, foto asli Cut Nyak Dhien adalah sosok wanita yang menggunakan
jilbab.
Namun, sebagian kelompok membantah analisis Cut Nyak
Dhien. Mereka menyebut foto wanita berjilbab tersebut adalah istri dari
Panglima Polim.
Dari polemik tersebut terdapat foto yang
mengagumkan dan bersejarah. Foto menampilkan sosok Cut Nyak Dhien yang
ditawan oleh Belanda. Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden,
Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus
Belanda, Letnan van Vuren. Foto ini juga yang menginspirasi adegan dalam
film Tjoe Nja' Dhien karya Eross Djarot yang memenangkan Piala Citra.
Cerita
penangkapan itu berawal saat Jendral Joannes Benedictus van Heutsz
memanfaatkan ketakutan masyarakat dan mulai menyewa orang Aceh untuk
memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan. Sehingga Belanda
menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11
Februari 1899.
Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru.
Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien, menangis karena kematian
ayahnya, ia ditampar oleh ibunya yang lalu memeluknya.
"Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid, " kata Cut Nyak Dhien.
Cut
Nyak Dhien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman
Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya.
Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena
tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh.
Selain
itu, Cut Nyak Dhien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan
ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang,
serta sulit memperoleh makanan.
Hal ini membuat iba para
pasukan-pasukannya. Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot
melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba. Akibatnya,
Belanda menyerang markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu.
Mereka
terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong
dan mencoba untuk melawan musuh. Sayangnya, aksi Dhien berhasil
dihentikan oleh Belanda.Cut Nyak Dhien ditangkap, sementara Cut Gambang
berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah
dilakukan oleh ayah dan ibunya.
Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien
dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ. Penyakitnya seperti rabun dan
encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dhien akhirnya dibuang
ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya
akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus
berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk. Pada tanggal 6 November
1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.




