BANDUNG (BangsaOnline) Husein (69) hanya bisa pasrah meratapi rumah dan barang berharga
miliknya terendam banjir. Kakek delapan cucu ini enggan larut dalam
kesedihan. Husein bangkit dan sigap memburu rupiah dengan berbekal
perahu kayu. Dia kini mendadak 'tajir' dari bencana banjir.
Luapan
air Sungai Citarum meluber menggenangi permukiman penduduk di Kampung
Cijagra, Kecamatan Bojongsong, Kabupaten Bandung, sejak Jumat lalu.
Genangan air menyentuh atap rumah Husein.
"Kulkas, kasur, sepeda
motor dan barang lainnya, tidak sempat diselamatkan. Ya pasrah saja.
Terpenting nyawa selamat," kata Husein ditemui di Jalan Terusan
Bojongsoang, Rabu (24/12/2014).
Dia tinggal bersama istri serta dua anak dan sejumlah cucunya. Dua anak lainnya berbeda rumah. Mereka semua mengungsi.
Husein
kesehariannya sebagai buruh serabutan ini sementara waktu banting stir
agar ekonomi keluarganya tetap stabil. Dia menawarkan jasa angkutan
perahu untuk membantu warga yang ingin melanjutkan perjalanan menerobos
banjir. Akses jalan di Kampung Cijagra ini terputus bagi kendaraan.
"Saya
mengantarkan warga dari kampung lain yang ingin pergi aktivitas dan
pulang kerja. Tarifnya tidak dipatok. Seikhlasnya saja," kata Husein.
Sejak
Sabtu lalu Husein sendirian mengayuh dayung. Perahu miliknya
berkapasitas enam orang dewasa ini wira-wiri melewati genangan air kotor
bercampur sampah. Jarak tempuh rutenya lebih satu kilometer untuk
menuju kampung lain yang akses jalannya tidak terendam.
"Pagi
hingga sore antar warga. Lumayan, sehari bisa dapat uang Rp 100 hingga
Rp 200 ribu. Uangnya buat makan dan kebutuhan lainnya. Biasa penghasilan
jadi buruh enggak segitu jumlahnya," tutur Husein.
Setiap banjir
rutin menerjang Kabupaten Bandung, banyak warga selain Husein yang
mendadak alih kerja menjadi penarik perahu. Tentunya keberadaan mereka
sangat membantu kelancaran aktivitas warga.




