SITUBONDO (BangsaOnline) - Memasuki pergantian musim, penderita demam berdarah dengue (DBD) meningkat drastis. Sedikitnya, 35 pasien dirawat di RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo dari bulan sebelumnya hanya 25 pasien. Akibatnya sejumlah pasien yang masih anak-anak harus dirawat di lorong kamar dengan ektra bed. Bahkan, penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aides aigepty ini sudah memakan empat orang korban anak-anak.
Sri Wahyuni (30), seorang ibu pasien asal mangaran mengatakan, anaknya terpaksa di rawat di lorong ruangan, karena sudah tidak ada lagi ruangan yang tersisa. Menurutnya, meskipun putri kesayangannya dirawat dilorong ia berharap tetap mendapat pelayanan dan penanganan yang baik sehingga putrinya bisa sembuh.
"Kami masuk tadi, ruangannya katanya sudah penuh. Mau gimana lagi ketimbang anak saya tidak mendapat perawatan," ujar Sri Wahyuni saat sedang menunggui putrinya yang dirawat di RSUD Abdoer Rahem, kemarin (27/1).
Sementara itu, Kabag Tata Usaha (TU) RSUD dr. Abdoer Rahem, Imam Hidayat membenarkan adanya peningkatan pasien DBD yang dirawat di RSUD. Ia juga membenarkan adanya lonjakan pasien hingga pihak RSUD harus menyediakan ekstra bed. Menurutnya, meningkatnya penderita DBD ii karena curah hujan yang tidak teratur sehingga nyamuk Aides aigepty dapat berkembang biak.
“Penyebabnya diantaranya karena banyak genangan air akibat hujan yang tidak teratur. Ini semakin mempercepat nyamuk aides aigepty berkembanga,” ujarnya.
Imam berpesan kepada masyarakat khususnya para ibu agar segera mengenali gejala serangan DBD. Menurutnya,gejala awal DBD yang harus diketahui seperti panas tinggi tidak turun tanpa pemberian obat, mimisan serta munculnya bintik bintik merah dibagian lengan dan bahu akibat pecahnya pembuluh darah dan trombusit menurun.
“Gejala demam, lebih parah lagi mimisan,, ada bercak merah di lengan dan pundak akibat pecahnya trombosit atau pembuluh darah,” jelasnya.
Selain itu menurutnya penting menjaga kebersihan dengan megubur kaleng bekas atau lainnya yang dapat menjadi genangan air sangat penting untuk mengantisipasi perkembangan nyamuk ini.
Data yang diimpun menyebutkan, empat orang penderita yang meninggal saat dirawat di RSUD karena DBD yang sudah parah yakni Puji warga Kapongan, Cinta warga Desa Mangaran dan Efendi warga Desa Silowogo yang umurnya masih sekitar 6-7 tahun.



