Ketakutan, ​Jenderal Kaya Raya, Pemilik Istana Swasta itu Menghilang

Ketakutan, ​Jenderal Kaya Raya, Pemilik Istana Swasta itu Menghilang Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Istana swasta milik yang juga jenderal itu akhirnya ditinggal begitu saja ketika Taliban menguasai Afghanistan? Lalu lari kemana Abdul Rashid Dostum, sang jenderal kaya raya yang gemar minuman keras itu?

Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, berjudul Musik Wiski di Disway pagi ini, Rabu 15 September 2021. Di bawah ini BANGSAONLINE.com menurunkannya secara lengkap. Namun agar bisa membaca tuntas sebaiknya pembaca mengklik bangsaonline.com langsung karena yang dilansir aplikasi agregator sering terpotong. Selamat membaca:

PUN di negara yang sangat miskin. Selalu ada saja orang yang super kaya. Termasuk di Afghanistan. Yang begitu miskin. Yang pendapatan per kapitanya hanya sekitar USD 400 per tahun. Yang berarti masih 10 kali lebih miskin dari rerata penduduk Indonesia.

Para pejuang Taliban umumnya tergolong lapisan termiskin itu. Tapi sejak tanggal 15 Agustus lalu pejuang miskin itu bisa merasakan bagaimana berada di rumah orang terkaya di sana.

Itulah rumah Afghanistan: Abdul Rashid Dostum. Ia jagoan, jenderal, kaya-raya, dan pernah jadi calon presiden –meski gagal.

Dostum dari daerah utara. Sukunya Uzbek. Ia tidak tamat SMA. Ia dari keluarga petani. Saat muda ia jago berkelahi. Ditakuti. Lalu jadi tentara. Lebih ditakuti lagi.

Ia memiliki bakat menjadi ketua kelompok. Ia lantas punya massa dalam jumlah besar. Khususnya di kawasan utara Afghanistan.

Begitu hebatnya sehingga ia punya nama panggilan hebat: Pasha. Yang artinya ”raja”.

Ketika Amerika membawa demokrasi liberal ke sana, 2001, Dostum mendirikan partai: Junbish-e Milli. Gerakan Nasional. Berbasis pengikut dari suku Uzbek dan menjadi partai besar –setidaknya khusus di wilayah utara.

Rumahnya yang di kota Kabul tidak pantas disebut rumah –saking besar dan hebatnya. Itu lebih tepat dibilang istana swasta.

Dostum ketakutan saat Taliban menguasai Afghanistan. Ia menghilang 15 Agustus lalu –di hari yang sama dengan ngacirnya Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Sang presiden lari terbang ke Dubai. Dostum terbang entah ke mana –kemungkinan besar ke Uzbekistan. Ia memang juga punya istana di Uzbekistan.

Istana Dostum yang di Kabul itu ditinggalkan begitu saja. Taliban –yang sudah menguasai hampir seluruh wilayah negeri– hari itu memasuki ibu kota Kabul dengan mudahnya. Mereka menguasai istana presiden. Tanpa perlawanan sama sekali. Sekejap kemudian Taliban juga menguasai istana swasta milik Dostum.

Kini sebagian pasukan Taliban –dari divisi Salahudin Al Ayubi– menduduki istana Dostum. Itulah divisi yang menjadi salah satu kekuatan militer utama Taliban.

Di taman-taman istana itu terlihat banyak tentara Taliban lagi duduk-duduk. Lengkap dengan teman setia mereka: senjata modern peninggalan Amerika.

Tiga hari lalu wartawan kantor berita Prancis, AFP, diundang Taliban ke istana swasta itu. Sang wartawan diajak tur keliling istana: melihat kemewahannya.

Diperlihatkan juga taman di halaman yang sangat luas. Juga fasilitas apa saja yang ada di rumah besar itu: gym, sauna, bar, dan ruang-ruang mewah di dalamnya.

Tulisan wartawan itu dimuat banyak media di dunia. Tergambar jelas betapa kontras antara kehidupan miskin rakyat Afghanistan dengan kemewahan rumah Dostum. Kontradiksi itulah memang yang ingin diungkap dari mengundang wartawan tersebut.

Semasa pendudukan Amerika memang muncul banyak sekali orang kaya baru di Afghanistan –meski Dostum adalah orang kaya lama. Banyak juga guru bahasa Inggris yang tiba-tiba menjadi penerjemah komandan tentara Amerika. Mereka mendapat penghasilan besar. Dan itu kurang penting. Yang lebih utama adalah: mereka mendapat kepercayaan dari Amerika. Lalu mendapat proyek besar. Terutama di bidang pengadaan logistik.

Bayangkan, setiap hari Amerika mengeluarkan dana hampir USD 300 juta. Atau sekitar Rp 5 triliun. Sekali lagi: itu setiap hari. Selama 7.000 hari terus-menerus. Semua itu harus dikerjakan oleh swasta. Asing maupun lokal.

Tapi mengapa Taliban menduduki istana swasta ini? Bukankah banyak orang superkaya baru lainnya?

Dostum itu beda –di mata Taliban. Dostum adalah the most wanted person di mata mereka. Sebagai jenderal, Dostum banyak memimpin perlawanan terhadap Taliban. Bahkan di masa pendudukan Amerika Dostum dianggap pernah melakukan pembantaian tahanan Taliban dalam jumlah besar –lebih 1.000 orang sekaligus. Yakni di sebuah padang yang terisolasi di Afghanistan.

(Abdul Rashid Dostum. Foto: disway)

Bahwa Dostum kini menghilang itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Di masa Taliban 1.0 berkuasa, Dostum lari ke Peshawar, kota di Pakistan yang terdekat dengan Afghanistan. Ia juga pernah lari ke Turki. Atau ke Uzbekistan.

Dostum punya rumah di banyak negara. Ia juga salah satu penggemar minuman keras Rusia, Vodka. Ia tidak bisa hidup tanpa itu. Berner made in Jerman selalu ada di rumahnya.

Ketika ditanya media berapakah istrinya, Dostum menjawab dengan canda: Tuhan hanya satu, istri juga harus hanya satu.

Karir politik tertinggi Dostum adalah menjadi wakil presiden. Selama 6 tahun. Cukup lama untuk ukuran sebuah negara yang belum stabil. Yakni antara 2014 sampai 2020. Di Pilpres 2020 ia maju sebagai Capres. Kalah. Ia tidak masuk lagi di kabinet Presiden Ashraf Ghani berikutnya.

Taliban akan menjadikan istana Dostum itu sebagai peringatan: tidak boleh lagi ada korupsi yang seperti ini.

Tapi prinsip Dostum tentu sangat berbeda dengan Taliban. Inilah motto Dostum yang sangat terkenal: “Kita tidak akan mendukung pemerintahan mana pun yang melarang musik dan wiski.” (Dahlan Iskan)

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO