SAMPANG (BangsaOnline) - Pasar Srimangunan Sampang yang dibangun sebagai pasar modern dengan kesan mewah dan elit, kenyataanya semua itu luput dari gambaran diatas. Sebab, saat memasuki area pasar, malah kesan kumuh dan kotor serta sampah berserakan dimana-mana. Hal ini menjadi pemandangan miris yang dirasakan pengunjung.
Parahnya, selain kotor penempatan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sepanjang trotoar yang harusnya menjadi kawasan yang bersih dari pedagang, menambah kesan amburadulnya pengelolaan pasar Srimnangunan Sampang yang menjadi kebanggaan masyarakat Sampang ini.
Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Pasar (Dispendaloka) Kabupaten Sampang yang menjadi leading sektor pengelolaan pasar Srimangunan seakan hanya kejar target saja untuk setor pendapat anggaran daerah (PAD) sebanyak-banyaknya dengan menarik karcis atau retribusi kepada pedagang.
Dengan banyak pedagang PKL hampir disemua sudut dan trotoar, Pasar Srimangunan bukan lagi dikatakan sebagai pasar modern tapi bisa dikatakan pasar kumuh dan kotor, yang kebersihan dan keindahan untuk kenyamanan pengunjung tidak ada sama sekali.
Ironisnya lagi, banyaknya sampah yang menumpuk di semua sudut lapak PKL, tidak ada petugas kebersihan yang membersihkannya setiap harinya. Buktinya, keramik pintu masuk pasar penuh dengan lumut yang menghitam karena tidak penah di bersihkan.
Saat dikonfirmasi kepada petugas pasar, apakah kekotoran pasar tidak pernah dibersihkan? Petugas menjawab memang sudah tidak pernah dibersihkan lagi karena sekalian menunggu dibangunnya pasar gedung B yang terbakar.
"Percuma dibersihkan mas, karena petugas akan kewalahan dengan banyaknya PKL," ucap salah seorang petugas pasar yang tidak mau disebutkan namanya.



