“Sistem sorogan dan bandongan harus tetap ada,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

BACA JUGA:Singgung Peran NU, Kiai Asep: Kita Punya ITS dan ITB Tapi Tak Bisa Buat Motor, Apalagi Rudal
Sistem bandongan adalah mengkaji kitab kuning dengan cara kiai membaca dan mengartikan kitab, sedangkan para santri menyimak dan menulis arti yang disampaikan atau diulas para kiai.
Sedang sistem sorogan sebaliknya. Para santri satu persatu membaca dan mengartikan kitab yang dikaji, sementara sang kiai atau ustadz menyimak dan mengontrol bacaan santri.










