Saya masih ingat ketika Soeharto sebagai ketua pembina Golkar ekspansi ke basis Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Madura. Narasi politik yang dikembangkan oleh para petinggi Golkar adalah soal karya. Menurut mereka, Golkar bukan partai, tapi golongan orang-orang berkarya.
"Jadi gak apa-apa ikut Golkar karena ini hanya perkumpulan orang-orang berkarya. Orang berkarya kan gak apa-apa," kata seorang guru madrasah yang sudah termakan provokasi petinggi Golkar saat itu.
Alhasil, Golkar adalah partai pragmatis tanpa kekhasan ideologi. Dan ini diakui oleh Erwin Aksa, Waketum DPP Partai Golkar Bidang Penggalangan Strategis. Menurut dia, seperti dikutip detik.com, Golkar tidak berada pada ideologi tertentu.
"Punya ideologi memang bagus, tapi sering kali debat ideologi tidak selesai-selesai. Inilah yang dikritik Presiden Soekarno kalau partai debat ideologi melulu siapa yang mau kerja. Hadirlah golongan karya yang ideologinya adalah kesejahteraan, bukan -isme -isme yang ekstrem," ungkap Erwin dalam acara peluncuran buku 'Jalan Tengah Golongan Karya: Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan demi Kemajuan Bangsa' di DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (26/2/2024).










