Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi bersama Khofifah saat Kongres Muslimat NU. Foto: Devi Fitri Afriyanti/BANGSAONLINE
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengajak Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengupayakan penguatan peran koperasi bagi pemerataan ekonomi.
Selain itu Kementerian Koperasi mendorong akselerasi pencapaian misi Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran.
BACA JUGA:
- Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Gubernur Khofifah Apresiasi Paskibra Bersatu Lintas Jenjang
- BSPS di Jatim Melonjak Jadi 33 Ribu Unit, Menteri PKP Dorong Dampak Ekonomi Luas
- Hardiknas 2026: Gubernur Khofifah Tegaskan Jawa Timur Jadi Barometer Pendidikan Nasional
- May Day 2026: Gubernur Khofifah Ajak Kolaborasi Industri dan Pekerja
Bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Muslimat NU, Budi Arie meyakini, peluang memajukan koperasi, khususnya di bawah naungan Muslimat NU, bisa mencapai target dan akan semakin besar.
"Penguatan dan pengembangan koperasi diarahkan untuk mendukung pada Asta Cita kedua yaitu swasembada pangan, Asta Cita ketiga terkait pengembangan industri agromaritim berbasis koperasi, dan Asta Cita kelima terkait industrialisasi hilirisasi melalui koperasi," kata Budi Arie, dalam paparannya pada Kongres Muslimat NU Ke XVIII, di Surabaya, Kamis (13/2/2025).
Budi Arie bertekad mewujudkan industrialisasi hilirisasi melalui koperasi. Untuk itu, seluruh program kerja prioritas Kementerian Koperasi difokuskan pada dua sasaran utama.
Yaitu upaya peningkatan kinerja usaha koperasi dan partisipasi masyarakat Indonesia dalam perkoperasian berupa peningkatan jumlah anggota koperasi di Indonesia.
"Saat ini jumlah masyarakat yang bergabung dalam koperasi hampir 30 juta padahal kita negara Pancasila, sedangkan di Amerika Serikat yang kapitalis jumlah masyarakatnya yang sudah bergabung koperasi mencapai 150 juta," ujarnya.
Dalam mengupayakan peningkatan dan pengembangan koperasi di Indonesia, Budi Arie mengakui terdapat beberapa tantangan.
Di antaranya mulai dari skala usaha yang masih mikro, tata kelola koperasi yang belum modern, hingga SDM pengelola koperasi yang kurang profesional.






