"Sebelumnya saya hanya bisa membayangkan dan terus berharap, kapan saya punya rumah yang layak untuk ditempati," katanya lirih.
Rasmining tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Nafasnya memburu menahan tangis yang seakan hendak meledak saat mengenang rumah reyot yang dihuni bersama satu anak dan satu cucunya bernama Fadil, 4 tahun.
Rasmining berkisah, rumahnya yang dihuni dulu hanya berkontruksikan kayu bambu. Itu pun dindingnya sudah banyak yang berlubang dan lapuk, bahkan di sebagian atapnya juga banyak yang bolong. Jika di musim hujan, janda tua itu bergulat melawan dinginnya udara yang menerobos rumah tanpa ampun.
"Mau memperbaiki tidak punya biaya. Buat makan saja masih kurang. Dua anak saya sudah hidup sendiri, yang satu ikut saya, tetapi tidak bekerja," katanya.










