Ning Lia Soroti Bullying dan Kecanduan Gim Daring pada Anak

Ning Lia Soroti Bullying dan Kecanduan Gim Daring pada Anak Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, saat kunjungan ke RS Menur Surabaya.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, menilai bentuk kekerasan psikologis maupun sosial seperti perundungan kini berkelindan dengan persoalan lain, mulai dari kecanduan gim daring, konflik keluarga, hingga kebutuhan pendidikan karakter sejak dini.

“Bahwa kasus bullying hari ini tidak lagi sporadis. Sebagian besar muncul di lingkungan terdekat anak, bahkan di tempat yang dianggap aman seperti rumah dan pondok pesantren,” ucapnya.

Ia menambahkan, kasus yang muncul tidak hanya berupa bullying, tetapi juga pencurian kecil di pesantren maupun lingkungan rumah. Hal tersebut menunjukkan masalah semakin luas dan tidak bisa dianggap enteng.

Menurut dia, persoalan mental dan karakter anak harus dipandang sebagai kerja bersama, bukan hanya tugas sekolah. 

“Kita mendidik anak itu harus dua arah. Orang tua harus menjaga agar anak jangan sampai menjadi pelaku perundungan, tapi juga jangan sampai menjadi korban,” tuturnya.

Upaya pencegahan, lanjut NIng Lia, dimulai dari pembentukan mental yang kuat sejak kecil. 

“Supaya anak tidak jadi objek dari perundungan, mereka harus dibekali keberanian, ketegasan, ketangguhan, dan fokus dalam kehidupan nyata. Jangan sampai mereka terjebak terlalu dalam pada dunia maya,” imbuhnya.

Ia juga menyoroti kecanduan gim daring sebagai pemicu gangguan belajar hingga depresi ringan pada anak dan remaja. 

“Banyak kasus gangguan fungsi belajar muncul karena anak lebih tenggelam dalam dunia maya dibanding dunia nyata. Ini membuat mereka rentan,” ujarnya.

Dalam kunjungan ke RS Menur Surabaya, Ning Lia mengapresiasi hadirnya layanan kesehatan mental yang lebih ramah di Jawa Timur. Menurut dia, layanan ini membantu orang tua mencari solusi tanpa stigma. 

“Alhamdulillah rumah sakit hadir dengan sabar, dengan niat membantu, dan tidak menghakimi. Ini penting sekali karena banyak orang tua sebenarnya bingung dan lelah, tetapi tidak tahu harus meminta bantuan ke mana,” paparnya.

Ia menambahkan, biaya konsultasi psikologis kini lebih terjangkau dibanding sebelumnya. 

“Kalau dulu mungkin orang takut karena biaya tinggi. Sekarang biayanya lebih manusiawi dan fasilitasnya lebih lengkap,” katanya.

Ning Lia juga mendorong pentingnya edukasi pra-nikah agar calon orang tua siap tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga mental. 

“Kita perlu mempersiapkan calon orang tua. Bukan hanya soal pernikahan, tetapi soal kesiapan mental dalam mengasuh dan membesarkan anak. Kalau ini dilakukan, banyak kasus bisa dicegah sejak awal,” ucapnya.

Ia berharap, sinergi antara keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan mental semakin kuat agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi tangguh, berdaya, dan berakhlak baik.

Fenomena bullying dan kecanduan gim daring pada anak kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya laporan kasus di rumah, sekolah, hingga pesantren. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena berdampak pada psikologis, perilaku, dan perkembangan sosial anak. (mar)