Cak Eri telah menginstruksikan Disbudporapar Surabaya untuk segera melakukan sinkronisasi data dengan PTS guna memastikan bantuan tepat sasaran. Berdasarkan data awal, di satu kampus seperti STIESIA saja, terdapat sekitar 300 mahasiswa yang membutuhkan uluran tangan.
“Jadi tidak hanya yang baru saja, tapi yang masih kuliah kemudian tidak bisa membayar (uang) kuliah dan masuk Desil 1-5, akan kita tutup UKT-nya. Sehingga ini bisa menggerakkan (program) Satu Keluarga Miskin, Satu Sarjana di Surabaya,” tegasnya.
Kebijakan ini diharapkan mampu mengembalikan semangat belajar para mahasiswa yang sebelumnya sempat putus asa. Cak Eri memahami bahwa beban ekonomi seringkali merusak motivasi belajar mahasiswa.
“Karena mahasiswa yang masuk Desil 1-5 ada yang mengatakan, ‘nggak mood (kuliah), saya pasti di-DO nih, karena nggak bisa bayar UKT’. Insyaallah nanti akan kita kumpulkan, agar punya semangat dan bisa mengubah ekonomi keluarganya,” tutur Cak Eri.










