KH Khotib Asumin (kanan). Foto: dok. pribadi
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) kemungkinan besar menentukan I Syawal 1447 H atau Idul Fitri jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026.
“Kenapa Sabtu? Karena ketika rukyat Kamis tidak imkan rukyat,” ujar KH Khotib Asmuni ahli falak dari Tim Rukyat Hilal Lembaga Falakiyah PBNU kepada BANGSAONLINE, Kamis (9/3/2026).
Berarti PBNU dipastikan berhari raya Sabtu? “Betul,” tegas Kiai Khotib Asmuni dengan sangat yakin.
Alumnus Pesantren Tebuireng ini kemudian mengungkap kriteria yang disepakati forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
“Kriteria MABIMS 3-6,4 merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya yang digunakan untuk menentukan kemungkinan terlihatnya hilal. Minimal 3 derajat pada saat matahari terbenam,” ujarnya.
Kiai Khotib sendiri biasa melakukan rukyatul hilal di Markaz POB (Pusat Observasi Bulan) Sunan Kaliwining Jember Jawa Timur.
Menurut dia, keputusan menunggu sidang isbat menjadi.
“Tapi kalau kriteria tidak memenuhi? Sidang isbat sama dengan legitimasi istikmal. Bahasa yang lebih tepat: kemungkinan besar istikmal. Karena tidak memenuhi syarat imkan rukyat,” ujar Kiai Khotib Asmuni.
Sementara Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) PWNU Jawa Timur melakukan rukyatul hilal penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idulfitri, Kamis (19/3) sore. Ketua LFNU Jatim Syamsul Ma’arif mengatakan rukyat dilakukan pada 29 Ramadan 1447 H, sesuai hasil ikhbar awal Ramadan yang menetapkan bulan Syakban digenapkan (istikmal) 30 hari.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




